Surabaya, Bandung, dan Semarang Jadi Juara Kota Pintar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kawasan padat permukiman Kota Surabaya bagian Barat terlihat dari ketinggian di tengah Kota Surabaya, Rabu, 4 Februari 2015. Foto: Fully Syafi

    Kawasan padat permukiman Kota Surabaya bagian Barat terlihat dari ketinggian di tengah Kota Surabaya, Rabu, 4 Februari 2015. Foto: Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia Smart Nation Award (ISNA) 2015 memberi penghargaan kepada daerah-daerah pintar di Indonesia. "Juara pertama kategori kota besar diberikan kepada Kota Surabaya," kata Ketua Dewan Juri ISNA 2015, Eko Indrajit, dalam acara ini, di JS Luwansa Hotel, Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2015.

    Kategori kecil, menengah, dan besar dibedakan menurut jumlah penduduk. Setelah Surabaya, Bandung menduduki peringkat kedua. Lalu disusul Semarang, Bekasi, dan Depok sebagai pernghuni peringkat ketiga, keempat, dan kelima.

    Untuk kategori kota menengah, juara pertama diraih Kota Surakarta. Peringkat kedua dan seterusnya adalah Yogyakarta, Cimahi, Cirebon, dan Balikpapan. Sedangkan untuk kota kecil dijuarai Kota Batu, disusul Pasuruan, Madiun, Blitar, dan Bontang.

    Selain kota, penghargaan daerah pintar diberikan kepada kabupaten dan provinsi. Untuk kategori kabupaten besar, peringkat pertama diraih Bogor. Peringkat berikutnya secara berturut-turut adalah Sleman, Tangerang, Banyuwangi, dan Bandung. Untuk kategori kabupaten menengah, Bantul menduduki urutan pertama, disusul Badung, Semarang, Gianyar, dan Boyolali. Juara kategori kabupaten kecil adalah Bintan, disusul Mukomuko, Lampung Barat, Klungkung, dan Pohuwato.

    Lalu, daerah pintar kategori provinsi besar adalah Jawa Barat, disusul Jawa Timur, serta DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Untuk provinsi menengah diraih Bali (1), DI Yogyakarta (2), dan Nusa Tenggara Barat (3). Untuk provinsi kecil, ada Kepulauan Riau (1), Gorontalo (2), dan Kepulauan Bangka Belitung (3).

    Indonesia Smart Nation Award digagas Citiasia Inc. Eko Indrajit, ketua dewan juri, menjelaskan, perbedaan penghargaan ini dengan penghargaan lainnya, "Komprehensif. Artinya, semua variabel yang ada dalam kota itu dinilai. Ada ribuan variabel, ada jutaan data yang diolah dan itu tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan big data atau networking," ujar pakar IT ini.

    CEO Citiasia Inc Farid Subkhan menjelaskan, kota pintar adalah kota yang mampu membangun daerah atau kabupaten dan provinsi. "Pertama, daerah yang lebih nyaman ditinggali. Kedua, daerah yang membuat orang mudah. Kalau naik transportasi tidak macet, kalau mau belanja tidak terlalu jauh, kalau misalkan mau berolahraga juga ada fasilitas umum," ujarnya.

    Kota pintar juga adalah daerah yang aman. "Kami pulang jam 12 atau 1 pagi, tidak ada jambret," ujarnya. Selain itu, kota pintar adalah daerah yang membuat orang semakin sehat dan sejahtera.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.