Kabut Asap, Tatap Muka Siswa-Guru Berkurang 10 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan umat Muslim melaksanakan salat Idul Adha dengan berselimut kabut asap di Bundaran Air Mancur Masjid Agung SMB II Palembang, Sumatera Selatan, 24 September 2015. Berdasarkan data dari BMKG Jarak pandang di kota Palembang turun hingga 100 meter. ANTARA/Nova Wahyudi

    Ribuan umat Muslim melaksanakan salat Idul Adha dengan berselimut kabut asap di Bundaran Air Mancur Masjid Agung SMB II Palembang, Sumatera Selatan, 24 September 2015. Berdasarkan data dari BMKG Jarak pandang di kota Palembang turun hingga 100 meter. ANTARA/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Palembang - Kabut asap pekat masih menyelimuti kota Palembang dan daerah lainnya di Sumatera Selatan. Namun demikian siswa mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas masih belum diliburkan. Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, Widodo, mengatakan pihaknya hanya merekomendasikan sistem belajar fakultatif.

    "Libur bukan jaminan anak-anak tidak bermain di luar rumah," kata Widodo, Selasa, 20 Oktober 2015.

    Selain menjalankan sistem fakultatif, saat ini siswa hanya mendapat pengurangan jadwal belajar dari sekolah masing-masing. Menurut Widodo, pihaknya menyiapkan sejumlah rencana jika November belum masuk musim hujan.

    Opsi itu dapat berupa memundurkan jadwal ujian atau menghapus masa libur. Tujuannya untuk menutupi kekurangan jam tatap muka disekolah akibat kabut asap. "Opsi terakhirnya adalah menjadwal ulang waktu ujian," ujar Widodo.

    Ditemui di sela menunggu kedatangan Menkopolhukam di SDN 155 Palembang, Widodo menjelaskan evaluasi total akan dilakukan setelah Sumatera Selatan memasuki musim hujan pada November atau Desember nanti. Namun dari hitung-hitungan awal, ia memprediksi terjadi pengurangan jadwal tatap muka hingga 10 persen. "Kami menanti petunjuk pusat karena juga menyangkut jadwal SNPTN."

    Sementara itu Ahmad, siswa kelas VI SDN 155, Talang Jambe Palembang meminta pemerintah segera mengatasi kebakaran lahan dan hutan didaerah itu. Pasalnya dampak dari kabut asap sangat dirasakan oleh dia dan teman sebayanya di sekolah. Sesak nafas, flu, dan batuk merupakan penyakit utama yang dialami para siswa.

    Libur sekolah dan belajar dirumah menurutnya bukan pilihan yang tepat. "Kami ingin belajar normal karena ujian semakin dekat," ujarnya.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.