Kabut Asap, Kementerian Kesehatan Teliti Masker yang Cocok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa fakultas ilmu kesehatan universitas muhammadiyah surabaya (UMSurabaya) luncurkan masker serabut kelapa untuk meminimalisir penyakit ISPA. Doc : um-surabaya.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    Mahasiswa fakultas ilmu kesehatan universitas muhammadiyah surabaya (UMSurabaya) luncurkan masker serabut kelapa untuk meminimalisir penyakit ISPA. Doc : um-surabaya.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Jakarta- Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Kesehatan Murti Utami mengatakan Kementeriannya masih melakukan penelitian berbagai jenis masker pada kondisi kebakaran hutan. "Penelitian jenis masker kebakaran hutan masih terus jalan," katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo, Senin, 19 Oktober 2015.

    Murti mengatakan komponen asap kebakaran hutan terdiri atas gas, partikulat, dan uap. Masing-masing dari komponen asap memiliki dampak terhadap kesehatan. Sampai saat ini tidak ada satu pun jenis masker atau respirator yang dapat memproteksi terhadap semua komponen gas dari asap kebakaran hutan.

    "Masker ataupun respirator didesain untuk mengurangi pajanan partikulat (PM)," katanya. Berdasarkan penelitian dan literatur, masker bedah didesain untuk memfilter partikel yang besar tetapi tidak untuk partikel yang kecil, penetrasinya sekitar 60-70 persen partikel masih dapat masuk ke saluran napas.

    Menurut Murti, terdapat banyak jenis respirator yaitu air purifying device dan air supplying device. Air purifying device memiliki beberapa jenis seperti N100, N95, R100, P100, dan lainnya, yang didasarkan pada kemampuannya memfiltrasi partikel.

    Dari semua jenis masker itu, jenis masker N95 adalah masker yang cukup baik karena dapat menghalangi 95 persen partikel yang masuk jika digunakan dengan teknik dan cara yang tepat. Berdasarkan beberapa penelitian, penggunaan masker N95 dan masker bedah tidak berbeda dari segi kejadian infeksi saluran pernapasan akut akibat pajanan asap kebakaran hutan. Hal ini berhubungan dengan teknik penggunaan masker N95 yang tidak tepat. Sehingga manfaatnya hampir sama dengan penggunaan masker bedah biasa.

    Jika digunakan dengan teknik dan cara yang benar, masker N95 dapat mengurangi gejala pernapasan yang timbul akibat pajanan asap kebakaran. Penggunaan masker N95 mempunyai keterbatasan berupa ketidaknyamanan penggunanya dan penggunaannya terbatas, yaitu maksimal hanya delapan jam.

    Berdasarkan penelusuran Tempo, penggunaan masker N95 direkomendasikan pada kondisi berikut ini, yaitu pada seseorang yang harus berada di luar ruangan saat kondisi asap cukup pekat yang dilihat dari kualitas udara PM 10 atau ISPU. Syarat lainnya, harus dengan individual fit test agar kemampuan proteksinya terjamin dengan baik. Selain itu, penggunaan masker N95 tidak direkomendasikan pada anak-anak, Ibu hamil, lanjut usia, dan pasien dengan penyakit kardiovaskuler, penyakit paru kronik serta untuk penggunaan di dalam rumah.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.