Kebakaran Gunung Lawu, Keluarga Sempat Tak Izinkan Naik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas meminta keterangan para pendaki yang selamat dari peristiwa kebakaran di jalur pendakian Gunung Lawu saat tiba di Pos Pendakian Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur, 18 Oktober 2015. BNPB mengatakan kebakaran hutan terjadi akibat perapian/api unggun dari pendaki gunung yang ditinggal dan belum dipadamkan. ANTARA/Siswowidodo

    Petugas meminta keterangan para pendaki yang selamat dari peristiwa kebakaran di jalur pendakian Gunung Lawu saat tiba di Pos Pendakian Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur, 18 Oktober 2015. BNPB mengatakan kebakaran hutan terjadi akibat perapian/api unggun dari pendaki gunung yang ditinggal dan belum dipadamkan. ANTARA/Siswowidodo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran hutan di Lereng Gunung Lawu kawasan Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang mengakibatkan tujuh pendaki tewas dan dua lain mengalami luka-luka membawa duka mendalam bagi keluarga korban.

    Agung Bayu, 29 tahun, keponakan salah satu korban tewas akibat terpanggang, Sumarwan, 48 tahun, warga Ngawi, mengatakan musibah itu membuatnya kehilangan tiga anggota keluarganya.

    Tiga anggota keluarga Agung yang tewas dalam peristiwa itu adalah Sumarwan; Rita Septi Hurika, 21 tahun, keponakan Sumarwan; dan Nanang Setia Utama, 16 tahun, anak Sumarwan. Selain itu, dua anggota keluarganya, yaitu Eko Nurhadi, 35 tahun, keponakan Sumarwan; dan Novi Dwi Isti Wanti, 15 tahun, anak kandung Sumarwan, mengalami luka bakar cukup serius dan kini sedang menjalani perawatan masing-masing di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo, Surabaya, dan RSUD dr Moewardi, Solo.

    Agung lantas mengenang kepergian rombongan keluarga itu ke Gunung Lawu. Sumarwan bersama anak, keponakan, dan pacar keponakannya, Awang Feri Frandika, 25 tahun, berangkat dari Ngawi dengan mengendarai tiga sepeda motor, Sabtu pagi, 17 Oktober 2015. "Sebelum mereka berangkat, ibu Rita sempat memperingatkan anaknya agar tidak jadi naik Gunung Lawu," ucap Agung.

    Peringatan tersebut diberikan karena Rita mempunyai penyakit maag yang dikhawatirkan kambuh saat mendaki gunung yang cuacanya dingin. Namun Rita nekat ikut berangkat bersama rombongan yang dipimpin pamannya. "Ibunya Rita dan ibunya Nanang masih syok," ujar Agung.

    Hetik Mardiati, 58 tahun, anggota keluarga Sumarwan yang lain, menuturkan pendakian yang dilakukan kerabatnya itu untuk menikmati tradisi bulan Muharram. Pada bulan yang juga disebut Suro dalam tradisi Jawa itu, Gunung Lawu banyak didatangi orang dengan beragam tujuan, antara lain ritual semedi. "Mereka pengin lihat saja, karena saat Suro selalu ramai," ucap Hetik.

    Namun nasib apes menimpa mereka setelah mencapai puncak. Saat perjalanan turun dan tiba di jalur pendakian antara pos III dan IV yang masuk kawasan Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Magetan, api berkobar dan membakar ilalang di tepi akses jalan, Minggu, 18 Oktober 2015

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.