Perubahan Iklim Dapat Pengaruhi Jenis Kelamin Kura-kura  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua ekor penyu saling berkejaran di pantai, untuk menuju laut. Kegiatan pelepasan penyu ini dihadiri puluhan pengunjung, mereka memadati bibir pantai untuk melihat secara langsung pelepasan penyu. Isle of Palms, Carolina Selatan, 14 Mei 2015. Richard Ellis / Getty Images

    Dua ekor penyu saling berkejaran di pantai, untuk menuju laut. Kegiatan pelepasan penyu ini dihadiri puluhan pengunjung, mereka memadati bibir pantai untuk melihat secara langsung pelepasan penyu. Isle of Palms, Carolina Selatan, 14 Mei 2015. Richard Ellis / Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Kura-kura air laut meletakkan telur-telurnya di dalam sarang-sarang bawah pasir, di mana telur menetas tanpa perlu dijaga induknya.

    Suhu udara masa inkubasi bervariasi, bergantung pada kondisi lingkungan, termasuk curah hujan, sinar matahari, awan, dan jenis pasir. Suhu udara saat masa inkubasi mempengaruhi rata-rata pertumbuhan, penetasan, dan suksesnya kelahiran serta penentuan jenis kelamin embrio.

    Meskipun kura-kura tempayak sudah ada lebih dari 60 juta tahun, kekeringan, hujan lebat, dan perubahan iklim mempengaruhi rasio jenis kelamin telur. Hal ini juga mempengaruhi masa depan reproduksi karena kura-kura tidak mempunyai kromosom X atau Y. Jenis kelamin mereka ditentukan selama masa perkembangan oleh lingkungan inkubasi.

    Situs Sciencedaily.com melansir, kondisi yang lebih hangat akan memproduksi kura-kura betina. Sedangkan kondisi lebih dingin akan memproduksi kura-kura jantan.

    Para peneliti dari Universitas Florida Atlantic baru saja menerbitkan hasil penelitian selama empat tahun terhadap efek suhu sarang kura-kura dan suhu pasir serta pada jenis kelamin telur. "Perubahan pada iklim kita juga mengubah kura-kura. Sebab, seiring dengan berubahnya temperatur sarang, maka berubah pula pola reproduksi mereka," kata Jeanette Wyneken, Ph D, profesor biologi dari FAU Charles E. Schmidt College of Science.

    “Pantai tempat bertelur di sepanjang garis pantai Florida penting karena mereka memproduksi mayoritas telur kura-kura tempayak yang akan masuk ke Samudra Atlantik bagian barat laut,” ujarnya.

    Kura-kura tempayak telah berjuang keras untuk hidup, mengingat hanya 1 dari 2.500-7.500 kura-kura laut yang berhasil tumbuh dewasa.

    Umumnya, kura-kura tempayak akan memproduksi 105 telur setiap musim kawin dan akan menetaskan lebih dari sepuluh musim kawin dari 20-30 tahun usia hidupnya untuk menggantikannya dan kemungkinan hanya satu pasangan. Jika jumlah pejantan tidak cukup diproduksi karena perubahan iklim, akibatnya akan mengerikan bagi spesies ini.

    "Jika perubahan iklim terus terjadi sehingga menyebabkan rasio jenis kelamin kura-kura tempayak berat sebelah, kita akan kehilangan perbedaan kura-kura laut. Demikian juga kemampuan keseluruhan mereka untuk bereproduksi secara efektif. Rasio jenis kelamin saat ini sudah sangat didominasi oleh betina," tutur Jeanette. "Itulah sebabnya penting untuk memahami bagaimana faktor lingkungan, khususnya suhu udara dan curah hujan, mempengaruhi rasio jenis kelamin telur."

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.