Kabut Asap di Jambi Kembali Memburuk  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua pelajar `selfie` dengan latar Jembatan Kahayan yang masih diselimuti asap pekat, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menemukan bahwa dari Januari hingga September 2015, ada 16.334 titik panas (berdasarkan LAPAN) atau 24.086 (berdasarkan NASA FIRM) yang tersebar di lima provinsi yaitu Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Riau. ANTARA/Rosa Panggabean

    Dua pelajar `selfie` dengan latar Jembatan Kahayan yang masih diselimuti asap pekat, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menemukan bahwa dari Januari hingga September 2015, ada 16.334 titik panas (berdasarkan LAPAN) atau 24.086 (berdasarkan NASA FIRM) yang tersebar di lima provinsi yaitu Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Riau. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jambi - Kondisi kabut asap di atas Kota Jambi dan sekitarnya dalam sepekan terakhir sempat membaik. Jarak pandang sempat mencapai level 3.500 meter. Namun, hari ini kabut asap di Jambi kembali memburuk. Jarak pandang hanya berkisar 300-500 meter.

    "Kualitas udara di kawasan Kota Jambi dan sekitarnya kembali sangat berbahaya, indeks standar pencemaran udara mencapai level 541," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Jambi Abubakar, kepada Tempo, Ahad, 18 Oktober 2015.

    Pekatnya kabut asap ini akibat meningkatnya kebakaran di kawasan hutan dan lahan. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jambi, jumlah titik panas terpantau Satelit Aqua dan Terra di wilayah Provinsi Jambi sebanyak 108 titik. "Jika kondisi ini tidak mengalami perbaikan, bukan tidak mungkin sekolah akan diliburkan kembali," ujarnya.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo, kembali pekatnya kabut asap di Jambi hari ini, karena ada kawasan lahan yang terbakar. Kawasan itu tidak terlalu jauh dari Kota Jambi, yakni di kawasan Tanjungjohor, Kabupaten Muarojambi.

    SYAIPUL BAKHORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.