Ada yang Tekan BMKG Agar Tak Sebar Data Kebakaran Hutan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara melintas di jalan yang dipenenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, 30 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak mencapai 177 titik. ANTARA/Rony Muharrman

    Pengendara melintas di jalan yang dipenenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, 30 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak mencapai 177 titik. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO , Palembang: Praktik-praktik buruk ala Orde Baru masih diterapkan sejumlah instansi di Tanah Air. Kali ini menimpa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan yang peranannya sangat vital dalam peristiwa kebakaran hutan dan lahan.

    "Ada instansi yang meminta kami untuk membatasi penyebaran informasi tentang cuaca, titik api, jarak pandang dan juga nilai ISPU," kata Indra Purna, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten, Palembang kepada Tempo, Sabtu, 17 Oktober 2015.

    Menurut Indra, institusi eksternal itu menekan BMKG untuk membatasi informasi kepada media dengan maksud dan kepentingan tertentu. Dia tidak mau menyebut nama institusi yang menerapkan praktek sensor informasi ala Orde Baru.

    Padahal, kata Indra yang alumni Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi & Geofisika, data-data tersebut sangat penting bagi dunia industri, penerbangan, transportasi dan kalangan pendidikan.

    Jajaran BMKG, kata Indra, tidak pernah menghiraukan tekanan eksternal. Menurutnya, jabatan yang ia emban mengharuskannya berbaik hati kepada siapapun yang membutuh informasi terbaru, termasuk wartawan.

    Selain itu, keadaan cuaca, tingkat kepekatan asap dan juga jumlah titik api tidak dapat mereka tutupi karena hal itu dapat dilihat secara kasat mata dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Indra senang bisa dilibatkan dalam penanganan kebakaran hutan dan bencana asap kali ini. Karena bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman.  Ia meyakini ilmunya akan semakin bertambah banyak dan pemahaman masyarakat semakin merata. "Sedihnya, pihak tertentu baru bertindak apabila telah timbul korban dan kerugian," ujarnya.

    PARLIZA HENDRAWAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.