Belum Ada Hujan Buatan di Kalimantan Selatan, Kenapa?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penaburan garam dari cerobong pesawat saat membuat hujan buatan di langit Dumai, Riau, (1/7). Penyemaian garam ke awan terus dilakukan untuk membuat hujan di Riau mengingat masih ditemukan beberapa titik api dalam kebakaran lahan gambut. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Penaburan garam dari cerobong pesawat saat membuat hujan buatan di langit Dumai, Riau, (1/7). Penyemaian garam ke awan terus dilakukan untuk membuat hujan di Riau mengingat masih ditemukan beberapa titik api dalam kebakaran lahan gambut. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Banjarmasin - Koordinator Lapangan Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Kalimantan, Erwin Mulyana, mengatakan hingga saat ini hujan buatan belum bisa dilakukan di Kalimantan Selatan. Alasannya, kelembapan atmosfer lapisan atas di Kalimantan Selatan secara umum di bawah 40 persen.

    "Udara di Kalimantan Selatan masih kering, jadi sulit membentuk awan comulus," kata Erwin kepada Tempo di Banjarmasin, Sabtu, 17 Oktober 2015. Padahal, kata dia, syarat utama pembentuk hujan buatan ialah kelembapan udara di atas 70 persen.

    Walhasil, tim BPPT belum menyemai garam di penjuru Kalimantan Selatan. Pihaknya masih berfokus menyemai garam di Kalimantan bagian utara, tengah dan barat, seperti Murung Raya, Sintang, Katingan, Barito Timur, dan kabupaten sekitarnya.

    Titik tolak operasi hujan buatan ini berpusat di Bandara Syamsudin Noor, yang digeber sejak Kamis, 15 Oktober lalu. Untuk sementara, kata Erwin, BPPT sudah menyemai garam sebanyak 6,8 ton.

    Ia mengklaim, usaha menyemai garam berhasil menurunkan hujan buatan di beberapa kabupaten sasaran, seperti sebagian Murung Raya, Katingan, dan Sintang. Namun, hujan mengguyur dalam skala ringan dan tidak merata.

    Prakirawan BMKG Bandara Syamsudin Noor, Riza Arian, mengatakan dinamika atmosfer atau kelembapan udara lapisan atas Kalimantan Selatan, masih kering. Walhasil, kondisi ini memperlambat pembentukan awan hujan. Selain sulit turun hujan, kata Riza, cuaca kering dengan temperatur udara yang tinggi justru memicu terjadinya kebakaran.

    "Kelembapan udara yang relatif kering di permukaan dan temperatur udara yang tinggi, sangat mendukung terjadinya kebakaran, apabila ada pembakaran," ujar Riza.

    Satelit Terra dan Aqua pada Sabtu, 17 Oktober 2015, pukul 06.00 Wita, menemukan 80 titik panas di Kalimantan Selatan. Sebaran titik panas di Kabupaten Kotabaru 39 titik, Tanah Bumbu 11 titik, dan Hulu Sungai Selatan 10 titik. Adapun kelembapan udara berkisar 32-86 persen, temperatur maksimal 36 derajat Celsius, dan kecepatan angin 9-35 kilometer per jam.

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.