Kabut Asap Tak Henti, Pelajar Jambi Malas Gunakan Masker  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga desa menutupi hidungnya karena asap tebal akibat kebakaran hutan di Pulau Mentaro, Muaro Jambi, Sumatera, 15 September 2015. REUTERS/Beawiharta

    Sejumlah warga desa menutupi hidungnya karena asap tebal akibat kebakaran hutan di Pulau Mentaro, Muaro Jambi, Sumatera, 15 September 2015. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jambi - Kabut asap yang berlangsung berpekan-pekan membuat sebagian pelajar bosan menggunakan masker ketika bersekolah atau di luar jam belajar. "Saya malas pakai masker sudah bosan dan terasa kurang leluasa melakukan aktivitas. Teman-teman juga sudah jarang pakai," kata Wahyu Saputera, pelajar SMP Negeri II Kota Jambi, pada Sabtu, 17 Oktober 2015.

    Para guru memang sering mengingatkan murid untuk menggunakan masker, baik di luar maupun di dalam ruang kelas. Namun, anjuran itu tidak diikuti lagi. Mungkin bosan, katanya, karena sudah dua bulan lebih menggunakan masker.

    Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak Bhayangkari 29 The Hock Kota Jambi Fatmawati menjelaskan para murid tetap dianjurkan memakai masker. "Sekolah mulai aktif belajar sejak 10 Oktober, setelah diliburkan akibat kabut asap sejak awal Agustus 2015," katanya.

    Sekolah Taman Kanak Kanak Bhyangkari 29 The Hock memiliki 112 orang murid dan menaungi pula play group dengan jumlah murid 67 orang.

    Berdasarkan pantauan Tempo, warga Kota Jambi yang beraktivitas di luar rumah, baik jalan kaki maupun mengggunakan kendaraan roda dua dan empat, sebagian besar tidak menggunakan masker lagi.

    Kondisi ini mulai tampak sejak memasuki Oktober, karena Kota Jambi dan sekitarnya sempat beberapa kali diguyur hujan dan asap pun terlihat lebih menipis.

    Kondisi udara di Kota Jambi dan sekitarnya masih pekat, jarak pandang hanya berkisar 500-1.100 meter. Berdasarkan pantauan Satelit Aqua dan Terra, titik panas di Provinsi Jambi sebanyak empat titik, semuanya berada di kawasan Kabupaten Muarojambi, jumlah tersebut jauh menurun bila dibandingkan sehari sebelumnya sebanyak 64 titik.

    Indeks standar pencemaran udara masih dalam level berbahaya, karena berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jambi, pada tengah malam hingga pagi, mencapai angka 580 lebih. Kondisi itu menurun menjelang siang yang rata-rata 283 hingga 350.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jambi Arif Munandar mengatakan pihaknya tidak mendapat bantuan dana segar dari pemerintah pusat, tapi berupa alat.

    "Alat bantuan dari pemerintah pusat yang kami terima sebagai bentuk pinjaman berupa tiga unit helikopter, dua unit pesawat jenis Cassa, dan 15 unit mesin pompa untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di daerah ini," katanya.

    Dana yang ada Rp 230 juta bersumber dari Pemerintah Provinsi Jambi. Dana ini digunakan untuk operasional dan honor para tenaga Satuan Tugas Bencana Asap.

    SYAIPUL BAKHORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.