Kapolsek Cantik Termuda Ini Siap Melayani 24 Jam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Iptu Dhayita Daneswari menaiki sepeda Motor pribadi tiap harinya yang digunakan untuk bertugas ke Polsek Candisari, Semarang, 16 Oktober 2015. Menjadi Kapolsek, Dhayita akan memimpin sekitar 30 anggota polisi. TEMPO/Budi Purwanto

    Iptu Dhayita Daneswari menaiki sepeda Motor pribadi tiap harinya yang digunakan untuk bertugas ke Polsek Candisari, Semarang, 16 Oktober 2015. Menjadi Kapolsek, Dhayita akan memimpin sekitar 30 anggota polisi. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Semarang - Inspektur Satu Dhayita Daneswari, menjadi kepala kepolisian sektor termuda dengan usia 23 tahun. Perempuan lajang asli Kota Semarang itu kini menjadi Kapolsek Candisari, Kota Semarang, Jawa Tengah, dengan anggota pasukan 30 orang yang rata-rata usianya lebih tua dari dirinya. Kapolsek cantik termuda itu menyatakan siap melayani 24 jam.

    “Telepon selulerku aktif 24 jam," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, di Mapolsek Candisari, Kota Semarang, Jumat malam, 16 Oktober 2015. "Hubungi saya, saya datang.”

    Sikap Dhayita itu ia buktikan saat wawancara dengan Tempo, saat itu Dhayita sedang bersiap mengamankan acara stand-up comedy di sebuah hotel dalam wilayah kerjanya. Dhayita merasa bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ada di wilayah kerjanya. “Jadi tak pernah berpikir bagaimana mau libur,” kata Dhayita menambahkan.

    Sebagai perempuan muda yang sudah punya tanggung jawab menjaga ketertiban dan perlindungan masyarakat, Dhayita tak sempat memikirkan kesukaan halnya anak muda seusianya. Dia mengaku tak suka menonton konser dengan berdesakan. Sebaliknya ia siap berdesakan ketika menghadapi aksi demontrasi yang biasanya menempatkan polwan di garda terdepan bila menghadapi unjuk rasa. “Polwan di depan memang tugas. Tapi kalau hiburan ramai tak suka,” katanya.

    Namun, Dhayita suka menonton film. Meski hanya film tertentu juga yang ia sukai. Salah satu film yang ia sukai adalah film Taken bercerita tentang human trafficking atau perdagangan manusia. Film itu ia nilai sangat inspiratif karena menceritakan perdagangan manusia, mengambarkan hal-hal di luar dugaan. “Bisa jadi kisahnya terjadi di negara kita.”

    Baginya film itu juga memberi pelajaran bagi dirinya yang menghadapi kasus kekerasan perempuan dan anak. “Karena berisi bagaimana bermain insting membongkar kasus perdagangan manusia,” katanya.

    EDI FAISOL

    Liverpool Beruntung, Ini Bukti Klopp Pesulap Hebat
    Geger Freeport, Inilah 5  Tanda yang Mencurigakan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.