Posko Lintas Iman Bantu Tangani Korban Aceh Singkil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis memasang infus pada pasien Uyung (27),  korban tembak pada konflik di Aceh Singkil, saat dirujuk di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh, 14 Oktober 2015. ANTARA/Ampelsa

    Petugas medis memasang infus pada pasien Uyung (27), korban tembak pada konflik di Aceh Singkil, saat dirujuk di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh, 14 Oktober 2015. ANTARA/Ampelsa

    TEMPO.CO, Jakarta - Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) memberi bantuan berupa Posko Lintas Iman untuk sebagian warga Aceh Singkil yang terusir dari kampung halamannya.

    “Posko ini diperuntukkan bagi siapa pun yang terkena dampak konflik, tetapi memberi perhatian lebih pada kaum rentan seperti anak-anak, perempuan, serta lansia yang jadi korban,” kata Kepala Humas PGI Jeirry Sumampow saat ditelepon Tempo pada Sabtu, 17 Oktober 2015.

    Jeirry mengatakan Posko Lintas Iman yang dibuka sejak Jumat lalu dibuat untuk mendampingi jaringan bantuan sosial yang sudah bekerja lebih dulu di Pakpak Barat, Sidikalang, Tapanuli Tengah, dan Aceh Singkil. “Bantuan sudah kami kirimkan sejak dua hari lalu ke tiga tempat, termasuk Aceh Singkil.”

    Kaum rentan diutamakan menerima  bantuan terlebih dahulu karena kaum pria masih banyak yang bertahan di kampung. “Yang merasakan ancaman justru kaum rentan, termasuk lansia, sehingga mereka memutuskan keluar dari lokasi.”

    Penanggung jawab Posko Lintas Iman, Ilma Sovri Yanti, mengatakan posko tersebut akan terus dibuka sesuai kebutuhan daerah. “Kamis malam kami sudah berhasil mencapai titik eksodus (pelarian) dan membawa mereka sementara ke dua titik penampungan yang berada di Desa Maduamas di Tapanuli Utara dan Desa Sipagindar di Pakpak Barat.”

    Pusat Posko Lintas Iman PGI yang membuka kesempatan bagi individu maupun kelompok peduli untuk memberikan bantuan sudah dibuka di Graha Oikoumene PGI, Salemba Raya, Jakarta. PGI juga menyalurkan sumbangan berupa pendanaan dari sejumlah lembaga yang bergerak di bidang sosial.

    PGI terus melakukan pendataan di tempat pengungsian. Dalam rilisnya, tercatat ada 966 balita, 508 anak berumur 6-12 tahun, 36 ibu hamil, 1330 perempuan, dan 512 lansia yang terancam hidupnya karena tinggal di pengungsian.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.