Kebakaran Hutan, Titik Panas Sumatera Turun Drastis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Titik api terlihat dalam layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Kabut asap akibat kebakaran hutan telah menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga Riau dan sekitarnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Titik api terlihat dalam layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Kabut asap akibat kebakaran hutan telah menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga Riau dan sekitarnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pekanbaru - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika stasiun Pekanbaru melaporkan bahwa jumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan di Sumatera turun drastis. Berdasarkan pantauan satelit Tera dan Aqua Jumlah titik api di Sumatera sebanyak 85 titik panas di sejumlah wilayah Sumatera. Jumlah tersebut jauh menurun dari hari sebelumnya yang mencapai 769 titik. "Titik panas terpantau pukul 05.00 pagi tadi," kata Kepala BMKG Pekanbaru, Sugarin Widayat, Sabtu, 17 Oktober 2015.

    Dari 85 titik panas itu, sebagaian besar berada di Sumatera Selatan yaitu 74 titik panas. Selebihnya tersebar di Riau sebilan titik panas, Jambi satu titik panas dan Kepulauan Riau satu titik panas. "Tingkat kepercayaan di Riau di atas 70 persen atau 8 titik," ucapnya.

    Sugarin menjelaskan, secara umum kondisi cuaca di wilayah Riau berawan diselimuti kabut asap tipis. Peluang hujan dalam intensitas ringan tidak merata terjadi di Riau bagian barat dan utara. "Temperatur maksimum 31.0-33.0 derjat calcius," katanya.

    Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan masih mengganggu kualitas udara di sejumlah wilayah Riau. Seperti Pekanbaru, jarak pandang menurun hingga 1.200 meter, Rengat 1.000 meter, Pelalawan 700 meter, dan Dumai 2500 meter. Pemerintah Indonesia dibantu sejumlah negara saat ini tengah berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan bencana kabut asap itu.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.