Tak Betah di Safe House, Tosan Pilih Pulang ke Rumah Lagi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah aktivis Solidaritas Untuk Salim Kancil dan Tosan melakukan aksi teatrikal di depan Istana Merdeka, Jakarta, 1 Oktober 2015. Aksi solidaritas untuk Salim Kancil dan Tosan ini sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap perjuangan warga dalam mempertahankan lingkungan dan ruang hidupnya. TEMPO/Subekti

    Sejumlah aktivis Solidaritas Untuk Salim Kancil dan Tosan melakukan aksi teatrikal di depan Istana Merdeka, Jakarta, 1 Oktober 2015. Aksi solidaritas untuk Salim Kancil dan Tosan ini sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap perjuangan warga dalam mempertahankan lingkungan dan ruang hidupnya. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Lumajang - Tosan meminta pulang ke rumahnya di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, setelah sempat dibawa ke rumah aman (safe house) sejak Kamis malam, 15 Oktober 2015.

    Tosan adalah korban selamat dari pengeroyokan dan penganiayaan karena menolak aktivitas tambang pasir di desanya pada Sabtu 26 September 2015 lalu. Rekannya, Salim alias Kancil, menjadi korban tewas. 

    Abdullah Al Kudus, anggota tim advokasi pendamping korban, mengatakan Tosan pulang kembali dan berkumpul  dengan keluarganya Jumat siang, 16 Oktober 2015. Menurut Aak, sapaan Abdullah, keberadaan Tosan di safe house atas dorongan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk kepentingan pemeriksaan. "Sudah dilakukan pemeriksaan sejak Jumat pagi," katanya.

    Aak mengatakan LPSK sebenarnya tetap meminta Tosan untuk tinggal di rumah aman karena statusnya yang dianggap rawan sebagai saksi korban. Namun, Tosan memaksa untuk pulang. "Dia tidak betah karena ingin berkumpul dengan keluarga."

    Dalam pemeriksaan kepolisian, menurut Aak, Tosan hanya didampingi LPSK tanpa didampingi tim advokasinya. Aak menyayangkan itu. "Kami akan konsultasi dengan LPSK ihwal pendampingan terhadap Tosan oleh tim advokasi," kata dia.

    Hal yang sama juga dikatakan Ahmad Zaky Gufron, juga dari tim advokasi korban. Gufron mengatakan Tosan dibawa ke rumah aman pada Kamis malam, 15 Oktober 2015. Ihwal materi pemeriksaan, Gufron mengatakan pihaknya masih belum menanyakan kepada Tosan. "Masih akan kami tanyakan dulu ke Tosan," kata Gufron.

    Ditemui di rumahnya, Jumat sore, 16 Oktober 2015, Tosan belum bersedia menjelaskan ihwal pemeriksaannya. Pantauan Tempo, rumah Tosan tetap dijaga sejumlah anggota kepolisian. Kerabat serta tetangganya datang silih berganti ke rumah beratap anyaman bambu itu.

    Tosan menjadi korban penganiayaan kelompok preman pro tambang, 26 September 2015. Akibat luka-lukanya, Tosan sempat menjalani perawatan di RS Saiful Anwar, Kota Malang selama 17 hari. Dia juga harus menjalani operasi. Setelah dinyatakan pulih, Tosan kemudian pulang ke Lumajang pada Selasa malam, 12 Oktober 2015 dengan didampingi LPSK.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.