Salim Kancil & Mafia Pasir Besi: Polisi Dituding Seperti Main Drama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis lingkungan berunjuk rasa di Kantor Bupati Serang, Banten, 12 Oktober 2015. Dalam aksinya mereka mengecam pemerintah terkait pembunuhan Salim Kancil dan meminta peerintah untuk menutup penambangan pasir ilegal di Banten. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Aktivis lingkungan berunjuk rasa di Kantor Bupati Serang, Banten, 12 Oktober 2015. Dalam aksinya mereka mengecam pemerintah terkait pembunuhan Salim Kancil dan meminta peerintah untuk menutup penambangan pasir ilegal di Banten. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta -– Sejumlah organisasi lembaga swadaya masyarakat seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan organisasi non-profit lainnya, Kontras dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) inginkan pelaku korupsi pasir besi Lumajang segera dipidana. Mereka, menyebut Kepolisian amat setengah hati dalam mengungkap kasus itu.

    “Polisi seperti main drama dalam kasus pembunuhan Salim Kancil dan penambangan pasir besi di Lumajang,” kata Muhnur Satyahaprabu,  Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Walhi  Jumat 16 Oktober 2015 di Kantor WALHI, Jakarta Selatan.

    Menurut Muhnur, bukti polisi main drama salah satunya adalah hanya tiga anggota polisi saja yang tengah menjalani sidang kode etik terkait dugaan menerima gratifikasi dari kepala Desa Selok Awar-Awar. “Yang diperiksa Polda Jawa Timur hanya Babinkamtibnas, Kanitreskrim, dan mantan Kapolsek Pasirian saja. Ketiganya juga hanya setingkat polsek,” kata Munhur.

    Anggota polisi yang diperiksa itu, adalah orang yang menerima uang secara langsung dari kepala desa. Padahal koalisi masyarakat sipil sudah memberi banyak petunjuk terkait peristiwa ini dan juga orang yang diduga kuat menjadi dari mafia bisnis haram itersebut.

    “Seharusnya memberantas praktik mafia pasir besi di Lumajang tak hanya berhenti pada penetapan kepala desa dan oknum anggota polisi saja.”

    Menurut Manajer Kampanye JATAM Ki Bagus Hadi Kusuma, praktik ilegal ini memiliki perputaran uang yang mencapai milyaran Rupiah dan kerugian negara diakibatkannya mencapai triliuan. “Sudah jelas, besar kemungkinannya praktik ini dilindungi oleh orang yang memiliki kekuasaan besar, baik di birokrasi pemerintah ataupun aparat keamanan,” kata dia.

    Sebelumnya Kepolisian Resort Lumajang telah menetapkan kepala Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Hariyono, sebagai otak kasusu penambangan pasir ilegal di Pantai Watu Pecak, Desa Awar-Awar.

    Atas perbuatannya, Hariyono dijerat Pasal 158 sub-Pasal 161 Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang mineral dan batu bara. Selain menangkap Hariyono, polisi juga telah menyita alat berat beserta bukti-bukti penarikan portal pasir.

    Kasus yang masih dalam pengembangan polisi ini juga menyeret 33 orang tersangka. Dalam hal ini, kepolisian juga turut memeriksa anggotanya yang diduga terlibat menerima suap hasil kejahatan penambangan pasir besi tersebut.

    BAGUS PRASETIYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.