Bendungan Alami di Lereng Merbabu Ini Terancam Ambrol  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah titik-titik api kebakaran hutan lereng Gunung Merbabu terlihat dari Kecamatan Ngablak, Magelang, Jawa Tengah, 21 Agustus 2015. Kebakaran hutan di lereng Gunung Merbabu meliputi daerah Dukuh Bentrokan, dan Dukuh Denokan Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. TEMPO/Pius Erlangga

    Sejumlah titik-titik api kebakaran hutan lereng Gunung Merbabu terlihat dari Kecamatan Ngablak, Magelang, Jawa Tengah, 21 Agustus 2015. Kebakaran hutan di lereng Gunung Merbabu meliputi daerah Dukuh Bentrokan, dan Dukuh Denokan Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Boyolali - Pemerintah Kabupaten Boyolali belum mempunyai solusi untuk mencegah kemungkinan ambrolnya Bendungan Sipendok di lereng Gunung Merbabu sisi timur.

    “Medannya sangat ekstrem. Bagaimana cara membawa alat-alat ke sana kalau jalan kaki saja sudah begitu berat?” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Boyolali, Suyono, di kantornya pada Jumat, 16 Oktober 2015.

    Suyono adalah anggota tim yang mendaki ke Bendungan Sipendok pada Kamis lalu. Dia mendaki bersama sekitar 20 anggota tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Komando Distrik Militer, Kepolisian Resor, dan Relawan Merbabu Pecinta Alam Boyolali.

    Bendungan Sipendok terbentuk secara alami dari batu dan tanah yang longsor dari dua bukit, yang mengapit Sungai Sipendok, yang berhulu di Sungai Serang. Bendungan dengan tinggi 100 meter dan lebar sekitar 25 meter itu hanya dapat diakses dengan jalan kaki selama sekitar 2,5 jam dari Dukuh Guwolelo dan Dukuh Ngagrong di Desa Ngagrong, Kecamatan Ampel, Boyolali.

    Bendungan Sipendok dikhawatirkan ambrol karena tidak kuat menampung limpasan air hujan dari dua bukit yang mengapitnya. Bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter itu kondisinya gundul akibat kebakaran hutan pada 27 September. 

    Saat ini, bendungan tersebut diperkirakan menampung ratusan ribu meter kubik air dengan kedalaman mencapai 35 meter. “Bukit-bukit itu tanahnya sangat labil dan sebagian sudah longsor. Materialnya berguguran hanya karena gema suara teriakan saja,” kata Suyono.

    Komandan Komando Rayon Militer Ampel Kapten (Arm) Joko Priyanto  mengatakan warga di sejumlah desa yang dilintasi Sungai Sipendok khawatir bendungan itu longsor saat musim hujan. “Pada 1987, pernah terjadi longsor batu-batu besar dari Sipendok. Saat itu, ada batu seukuran mobil yang menggelinding sampai Jalan Raya Sruwen, Ampel,” kata Joko.

    Menurut Suyono, Bendungan Sipendok saat ini tersusun dari batuan pecah, bukan batuan bulat. “Batuan pecah itu bisa diibaratkan seperti batako. Jadi, longsoran material dari longsoran bukit yang mengapitnya justru bisa menambal celah antarbatuan pecah sehingga dapat menguatkan struktur bendungan alami tersebut,” kata Suyono.

    Dari kajiannya, Suyono optimistis Bendungan Sipendok mampu bertahan dari luapan air hingga berakhirnya musim hujan 2016. “Tetapi, kami tidak dapat memastikan kondisi alam. Kami hanya bisa berharap semoga tidak terjadi apa-apa,” ujar Suyono.

    DINDA LEO LISTY 

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.