Ulang Tahun, Yogya Gelar Kontes Burung Hias Wali Kota Cup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penari unjuk gigi di depan pelataran Tugu Yogyakarta pada acara pawai budaya rangkaian acara HUT Kota Yogya ke - 259, Yogyakarta, 7 Oktober 2015. Pawai budaya dibuka oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan HB X bersama walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti. TEMPO/Pius Erlangga

    Sejumlah penari unjuk gigi di depan pelataran Tugu Yogyakarta pada acara pawai budaya rangkaian acara HUT Kota Yogya ke - 259, Yogyakarta, 7 Oktober 2015. Pawai budaya dibuka oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan HB X bersama walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta -- Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar lomba burung berkicau Wali Kota Cup di halaman Balai Kota Yogyakarta pada Minggu, 18 Oktober 2015.

    Dalam even yang masih masuk dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta ke-259 itu, panitia akan memperlombakan tiga kelas, yakni kelas utama Wali Kota, kelas Pamong Praja, dan kelas Rakyat.

    Tiket pendaftaran termahal seharga Rp 100 ribu untuk kelas Wali Kota, Rp 80 ribu kelas Pamong Praja, dan Rp 50 ribu kelas Rakyat.

    Untuk mengamankan acara ini, panita dan pemerintah bekerja sama dengan Komando Distrik Militer (Kodim) 0734 Kota Yogyakarta, yang akan menurunkan personil delapan orang menjaga gelaran itu.

    “Karena lomba ini bersifat silent atau non-teriak, agar peserta tidak ricuh,” ujar panitia lomba burung Nugroho, Kamis, 15 Oktober 2015.

    Maksud dari non-teriak itu, peserta pemilik burung hias dilarang mengeluarkan suara atau bunyi gaduh lain untuk memancing burungnya agar berkicau.

    “Jadi lomba ini juri cukup mendengar suara burung saja, bukan pemilik atau perawatnya,” ujar Nugroho, yang juga pemimpin komunitas pecinta burung Bolo Ocehan Demangan (Bodem) Kota Yogyakarta.

    Dalam even ini, burung yang dapat dilombakan berbeda tiap kelas. Misalnya kelas Wali Kota yang termahal pendaftarannya, burung yang bisa ikut jenis Muari Batu, Lovebird, Kacer, Kenari Standart, Cucak Hijau, dan Penthet.

    Sedangkan kelas menengah, yakni Pamong Praja, burung yang dapat dikutkan selain Murai Baru, Love Bird, Kenari Standarat, dan Cucak Hijau, ada juga Anis Merah dan Kacer.

    Sedangkan pada kelas termurah, yakni kelas Rakyat, burung yang bisa diikutkan seerti Lovebird, Kenari Standart, Penthet, Pleci, dan Ciblek.

    Nugroho menuturkan, even ini juga bertujuan mendorong semangat para pembudidaya burung (breeding) menampilkan koleksi terbaiknya bisa tampil. Pemenang yang memakai alat bantu persilangan lokal pun akan mendapat tambahan hadiah berupa uang.

    “Selain jenis dan biaya pendaftaran, yang membedakan tiap kelas itu besar hadiahnya,” ujar Kepala Bidang Pertanian Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Pemerintah Kota Yogyakarta Benny Nurhantoro.

    Untuk kelas Wali Kota hadiah utama uang tunai Rp 1,2 juta serta trofi. Sedangkan di kelas Pamong Praja hadiah utama uang tunai Rp 900 ribu dan trofi, serta di kelas rakyat hadiah utama uang tunai Rp 600 ribu.

    Untuk meminimalisir peserta yang tidak memenuhi kuota maksimal, panitia pun menerapkan daftar hadiah sesuai table. Artinya, juara ke 2,3, dan 4 melihat jumlah peserta yang ikut.

    “Satu kelas bisa hanya ada satu juara saja jika peserta sangat sedikit,” ujarnya. Dalam event ini, panitia pun tak mau mengambil resiko jika saat penyelenggaraan acara ternyata ada gangguan. Seperti muncul kekacauan dan cuaca buruk. Uang tiket peserta juga tak akan dikembalikan.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.