Polisi Sita Tiga Mobil Kepala Desa Salim Kancil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim DVI melakukan olah tempat kejadian perkara kasus tindak kekerasan kepada dua warga penolak tambang pasir di Balai Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. TEMPO/David Priyasidharta

    Tim DVI melakukan olah tempat kejadian perkara kasus tindak kekerasan kepada dua warga penolak tambang pasir di Balai Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. TEMPO/David Priyasidharta

    TEMPO.CO, Surabaya - Polisi menyatakan telah menyita tiga mobil milik Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Hariyono yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tambang pasir liar dan pembunuhan terhadap warganya, Salim alias Kancil, belakangan juga disangka untuk tindak pidana pencucian uang.

    Tiga mobil milik sang kepala desa disebutkan berjenis Toyota Fortuner, Toyota Rush, dan Nissan Evalia. "Tiga mobil tersebut sudah kami amankan sebagai barang bukti,” kata juru bicara Polda Jawa Timur, Komisaris Besar RP Argo Yuwono, Kamis 15 Oktober 2015.

    Selain menyita tiga mobil, polisi, kata Argo, juga memblokir rekening Haryono. Belum diketahui pasti nilai uang dalam rekening itu, termasuk bagaimana modus pencucian uang yang dilakukan tersangka. “Rekening yang di blokir pihak perbankan yang tahu,” kata Argo.

    Kasus pencucian uang ditelisik menyusul kesaksian Haryono dalam sidang disiplin dengan terperiksa terdiri dari tiga anggota polisi. Mereka diperiksa karena diduga menerima aliran uang dari tambang pasir liar yang dikelola Haryono di Selok Awar awar.

    Dalam sidang tersebut Haryono menyebut daftar penerima uang darinya. Bukan hanya polisi, pejabat Perhutani, TNI,  wartawan dan LSM di daerah setempat juga ada dalam daftarnya itu. Aliran uang untuk tiga anggota polisi disebutnya bervariasi antara Rp 500 ribu dan Rp 1 juta setiap bulannya.

    Kasus tambang liar ini diusut menyusul kasus pengeroyokan dna penganiayaan yang dialami dua warga Desa Selok Awar awar penolak aktivitas dan keberadaan tambang itu pada Sabtu 26 September 2015. Satu diantaranya yakni Salim alias Kancil, 52 tahun, tewas.

    Salim dkk sebenarnya pernah mengadu menerima ancaman karena penolakan itu ke kepolisian setempat pada 10 September 2015. Namun terbukti penganiayaan menjelma dari ancaman tersebut. Seorang saksi bahkan mengatakan melihat mobil patroli polisi ketika Salim dianiaya di balai desa, namun mobil itu hanya melintas.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.