Peringati Suro, Adik Sultan HB X Kembali Bahas Sabda Raja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan Hamengkubuwono X, raja Kasultanan Yogyakarta, membacakan Sabda Tama (pernyataan raja) di Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta, Kamis (10/05). Dalam pernyataannya, Sultan menegaskan bahwa Kraton Yogyakarta dan Kraton Puro Pakualaman merupakan satu kesatuan yang utuh, dan bahwa Yogyakarta memiliki tata peraturannya sendiri meskipun telah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo

    Sri Sultan Hamengkubuwono X, raja Kasultanan Yogyakarta, membacakan Sabda Tama (pernyataan raja) di Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta, Kamis (10/05). Dalam pernyataannya, Sultan menegaskan bahwa Kraton Yogyakarta dan Kraton Puro Pakualaman merupakan satu kesatuan yang utuh, dan bahwa Yogyakarta memiliki tata peraturannya sendiri meskipun telah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Adik tiri Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Bendoro Pangeran Hario (GBPH) Prabukusumo, menjadi perwakilan keraton yang menyampaikan pengantar peringatan 1 Suro di komplek Keben Bangsal Ponconiti, Rabu petang, 14 Oktober 2015.

    Di hadapan ribuan warga yang hadir, juga kerabat dan keluarga HB X, momen peringatan Suro kali ini oleh Prabukusumo digunakan untuk kembali membahas soal Sabdaraja HB X, yang sempat menjadi sumber kisruh internal keratin, antara HB X dan para adik kandung juga tirinya. (Lihat video Cara Meriahkan Tahun Baru Islam)

    Prabukusumo membahas poin-poin Sabdaraja HB X yang menjadi kontroversi, terutama yang dinilai bertentangan dengan tata adat istiadat keraton turun temurun atau Paugeran. Seperti soal penghapusan gelar khalifatulah, juga soal raja laki-laki.

    Sabdaraja HB X yang keluar pada pertengahan tahun ini, dituding para adik Sultan dan kerabat sebagai upaya merombak tradisi. Seperti pergantian nama Hamengku Buwono menjadi Hamengku Bawono. Juga soal upaya pergantian kekuasaan raja yang biasa dari kalangan laki-laki menjadi perempuan. Kebetulan, seluruh anak HB X perempuan.

    "Penggantian paugeran itu tak boleh dilakukan, yang boleh hanya pranata (aturan teknis)," ujar Prabukusumo.

    Prabukusumo kembali menyindir Sabdaraja HB X yang salah satunya hendak menghilangkan gelar khalifatullah. Menurut Prabu, arti khalifatulah sendiri, yakni umat laki-laki Islam. Khalifatullah tak lain umat laki-laki Allah yang bertugas melakukan syiar agama.

    Dia menyebut pula kaum perempuan sudah diberi tugas mulia oleh Allah, yakni mengandung dan melahirkan. "Ini harus dipahami, mengganti nama tak masalah, tapi jangan gelar," ujarnya.

    Saat Prabukusumo bercerita panjang lebar ihwal paugeran itu, kerabat keraton lain hanya menyimak santai, termasuk menantu Sultan yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY, Kanjeng Pangeran Hario Purbodiningrat.

    "Tak ada yang perlu dikomentari," ujar Hario Purbodiningrat soal ceramah Prabukusumo itu.

    Purbodiningrat mengatakan ia hadir sebagai perwakilan keraton atas titah sinuhun Ngarso Dalem HB X.

    "Kan memang perwakilan ditunjuk laki-laki, kebetulan semua anak mantu masih di luar negeri, bekerja dan sekolah, tinggal saya," ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.