Kirim Seniman Palsu ke Festival Reog, Wali Kota Didemo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kesenian Reog Ponorogo. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Kesenian Reog Ponorogo. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Kediri–Festival Reog Nasional XXII di Ponorogo diwarnai aksi unjuk rasa oleh seniman  jaran kepang dan reog asal Kediri, Senin, 12 Oktober 2015. Pasalnya, Pemerintah Kota Kediri dituding mengirimkan delegasi palsu untuk mengikuti festival kesenian khas Ponorogo tersebut.

    Amarah para seniman tradisional tersebut tidak terbendung saat mereka memergoki delegasi  yang dikirim Pemerintah Kota Kediri ternyata bukan seniman asli daerah itu. Delegasi yang dikirim ke festival disinyalir merupakan seniman asal Ponorogo yang dibayar oleh Dinas Pariwisata Kota Kediri dalam rangkaian acara Grebeg Suro 2015 di Ponorogo.

    Karena itu puluhan seniman tradisional  menggelar unjuk rasa di Kantor Wali Kota Kediri memprotes sikap pemerintah setempat. Mereka menuntut Kepala Dinas Pariwisata Nurmuhyar bertanggungjawab atas pengiriman "delegasi palsu" itu karena dinilai mencederai sportivitas seniman. “Kami yakin ini bukan pertama kali Dinas Pariwisata bermain-main dengan seniman,” teriak Hanif, koordinator aksi.

    Menurut Hanif keberadaan delegasi palsu itu terkuak saat komunitas seniman Kediri menerima informasi bahwa penampil asal Kota Tahu di Festival Reog juga sesama pemain reog asal Ponorogo. Mereka dijadwalkan tampil pada  Sabtu pekan lalu  pukul 19.25 – 19.50 WIB di Ponorogo.

    Sejumlah seniman kemudian melakukan pengecekan di lokasi dan mendapati delegasi asal Kediri terdiri dari orang-orang yang tak mereka kenal. Setelah diusut, delegasi itu ternyata para seniman reog asal Ponorogo yang menyediakan diri menjadi pemeran pengganti dengan imbalan uang. Tindakan ini dinilai para seniman Kediri mencederai ketulusan berkesenian demi mengejar prestasi belaka.

    Hanif mendesak Wali Kota Kediri Abdullah Abubakar mengusut manipulasi seniman yang diduga melibatkan sejumlah pejabat. Selain memanipulasi seniman, mereka juga menuding Dinas Pariwisata melakukan manipulasi keuangan terkait pelaksanaan kegiatan kesenian di Kota Kediri. “Kita siap jika diminta membeberkan bukti-bukti korupsi jika dilaporkan ke polisi,” kat Hanif.

    Dalam aksi itu para seniman membawa  perlengkapan  dan melakukan beberapa gerakan tarian di depan pagar Pemerintah Kota Kediri. Meski dihadang anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Kepolisian Resor Kota Kediri, namun para seniman terus berorasi dan menari.

    Namun unjuk rasa seniman itu tak mendapat respons wali kota yang sedang pergi.  Adapun Kepala Dinas Pariwisata Kota Kediri Nurmuhyar maupun Kepala Bagian Hubungan Masyarakat  Apip Permana tak bisa dikonfirmasi. Telepon genggam kedua pejabat itu tak menjawab telepon maupun pesan singkat yang disampaikan Tempo.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.