Rhoma Irama Akan Jelaskan Partai Idaman Lewat Lagu Dangdut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja dangdut, Rhoma Irama tiba dalam peresmian Partai Idaman di Jakarta, 11 Juli 2015. Partai Idaman juga berslogan membangun Indonesia yang Pancasilais. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Raja dangdut, Rhoma Irama tiba dalam peresmian Partai Idaman di Jakarta, 11 Juli 2015. Partai Idaman juga berslogan membangun Indonesia yang Pancasilais. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Partai Islam Damai Aman (Idaman) Rhoma Irama akan menggunakan cara tak lazim saat menyampaikan visi dan misi partai bentukannya. Cara itu akan disampaikan dalam acara deklarasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Idaman pada Rabu mendatang.

    Pria yang dijuluki raja dangdut itu akan menggunakan lagu-lagu dangdut ciptaannya dalam menyampaikan visi dan misi partai tersebut. “Ini karena saya seniman, makanya disampaikan lewat lagu,” kata Rhoma dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2015.

    Rhoma akan menggandeng Soneta Grup saat menyampaikan visi dan misi partainya. Lagu-lagu yang akan dinyanyikan merupakan lagu lawas miliknya. Menurut dia, dengan cara ini, penyampaian visi dan misi akan lebih efektif.

    “Saya sudah mensurvei selama 40 tahun dalam perjalanan karier saya, lagu itu memiliki nilai lebih ketimbang ceramah atau pidato,” ucapnya.

    Rhoma bukan pendatang baru di panggung politik Indonesia. Pada 1977, dia bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan. Dia bahkan pernah digadang-gadang partai berlambang Ka’bah tersebut untuk menjadi calon presiden. Namun pencalonannya gagal karena elektabilitas Rhoma dianggap rendah.

    Rhoma kemudian berlabuh ke Partai Kebangkitan Bangsa pada Pemilu 2014. Lalu, pada awal 2015, dia menjadi anggota Partai Bulan Bintang. Namun, karena adanya konflik internal di PBB, dia memutuskan keluar dan membuat partai sendiri.

    BAGUS PASETIYO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.