Soekarno Minta Seniman Tak Dibunuh Pasca-G30S, Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pidato Soekarno tentang Malaysia di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 28 Juli 1963. Dok. Perpusnas RI

    Pidato Soekarno tentang Malaysia di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 28 Juli 1963. Dok. Perpusnas RI


    Kepada Djoko Pekik, Moes Soebagjo menyatakan sempat was-was ketika Soekarno menyatakan itu. Sebab, ketika Soekarno memerintahkan ihwal ini, seniman Trubus telah diciduk dan tak diketahui lagi keberadaan Trubus. Trubus diyakini telah dihabisi tak lama setelah ditangkap di Kaliurang pada sekitar Oktober atau November 1965.

    Seniman Trubus, bersama Henk Ngantung, dan Edhi Soenarso merupakan tiga seniman yang dipanggil Soekarno untuk proyek Jakarta bersolek pada awal dekade 1960-an. Patung pada Tugu Selamat datang di Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta merupakan bagian dari proyek itu. “Kalau Bung Karno tahu bahwa Trubus sudah dihabisi, saya bisa kelimpungan di depan Bung Karno,” kata Moes, seperti ditirukan Djoko Pekik.

    Menurut Djoko Pekik, setidaknya ada 30 seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra tingkat pusat yang dikejar-kejar tentara setelah peristiwa G30S tahun 1965. Menurut Djoko Pekik, tidak semua seniman Lekra menjadi anggota atau bahkan pengurus PKI.

    Djoko Pekik adalah seorang di antaranya. Namun, di antara seniman yang dekat dengan Soekarno itu, sebagian di antaranya menjadi korban pada peristiwa G30S tahun 1965. “Trubus menjadi pengurus PKI dan anggota DPRD Gotong Royong Yogyakarta dari Fraksi PKI,” kata Djoko  Pekik.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.