Penderita Gangguan Jiwa Berat di Depok Tinggi, Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter berjaga di ruangan khusus caleg yang mengalami gangguan Jiwa di RSUD Kabupaten Tangerang, Banten (26/3). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Dokter berjaga di ruangan khusus caleg yang mengalami gangguan Jiwa di RSUD Kabupaten Tangerang, Banten (26/3). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Depok - Dinas Kesehatan Kota Depok mencatat banyak warga kota ini yang mengalami gangguan dan masalah kejiwaan. Tercatat pada 2014 terdapat 3.986 penderita gangguan jiwa yang datang ke ke klinik kesehatan dan puskesmas.

    Kepala Seksi Pelayanan Dasar dan Rujukan Dinas Kesehatan Kota Depok Zakiah mengatakan masih banyak masyarakat yang memandang negatif orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.

    "Orang yang mengalami gangguan jiwa mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Hal tersebut akan memperburuk kondisi mereka," kata Zakiah, Jumat 9 Oktober 2015.

    Dalam menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia setiap 10 Oktober, Pemkot Depok akan melakukan upaya optimalisasi kesehatan jiwa melalui integrasi pelayanan kesehatan jiwa dengan layanan primer, seperti pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan non-spesialis dan pemberdayaan masyarakat. Melakukan bimbingan teknis dari tenaga kesehatan jiwa profesional.

    Selain itu, akan ada penguatan koordinasi lintas program dan sektor dalam pembangunan kesehatan jiwa masyarakat. Lalu meningkatkan kerjasama dalam memenuhi kebutuhan data dan informasi terhadap masyarakat yang mengalami gangguan jiwa.

    "Masalah kesehatan jiwa ini seperti fenomena gunung es," ucapnya.

    Banyak orang yang mengalami gangguan jiwa tidak dbawa berobat oleh keluarganya. Mereka menganggap gangguan jiwa seperti aib keluarga sehingga harus disembunyikan.

    Jumlah gangguan jiwa terbagi menjadi 10 kasus, diantaranya gangguan mental organik, gangguan penggunaan Napza, skizofrenia dan gangguan psikotik kronik lain, gangguan psikotik akut, gangguan bipolar, gangguan depresif, gangguan neurotik, retardasi mental, gangguan jiwa anak dan remaja, serta epilepsi.

    "Paling banyak di Depok penderita gangguan jiwa berat mencapai 1.687 kunjungan tahun kemarin," ucapnya.

    Penerita penyakit gangguan jiwa berat dan ringan tersebut rentan diderita usia produktif diantara 19-44 tahun. Penderita gangguan jiwa di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Beban kerja yang berat dan masalah sosial menjadi penyebab banyak warga yang mengalami gangguan jiwa.

    "Kesadaran masyarakat harus ditingkatkan untuk memberikan hak-hak penderita gangguan jiwa. Jangan mengolok-olok mereka," ucapnya.

    IMAM_HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.