Indonesia Akhirnya Bersedia Dibantu 5 Negara Usir Kabut Asap  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara melintas di jalan yang dipenenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, 30 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak mencapai 177 titik. ANTARA/Rony Muharrman

    Pengendara melintas di jalan yang dipenenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, 30 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak mencapai 177 titik. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan  Indonesia sudah membuka diri menerima bantuan negara tetangga dalam memadamkan kebakaran hutan dan menangani kabut asap. Alasannya, kata Arrmanatha, titik-titik api baru masih bermunculan.

    "Info yang kami terima masih ada sekitar 110 titik api yang digambarkan. Kemarin ada sebelas titik api di Riau dan hari ini tinggal satu. Di Kalimantan Tengah kemarin ada 12, hari ini ada 28. Tantangan inilah yang meningkat," kata Arrmanatha di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 8 Oktober 2015.

    Arrmanatha mengatakan bahwa kemarin sempat ada pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Australia, dan Malaysia untuk membahas kerja sama menghilangkan titik api yang terus berkembang dan kabut asap yang masih menyelimuti. "Saat ini ada lima negara yang berencana membantu, yaitu Australia, Cina, Malaysia, Rusia, dan Singapura," kata dia.

    Dalam perkembangannya, kata Arrmanatha, Indonesia membuka diri untuk bekerja sama menangani masalah ini. "Saat ini akan dikembangkan dan disusun TOR-nya perihal bantuannya apa dan berapa lama. Akan di-bailout beberapa hari ke depan," katanya.

    Sebelumnya, Indonesia menerima surat dari Malaysia dan Singapura yang sejak awal berniat membantu memadamkan kabut asap. Selain itu, Thailand mengusulkan ASEAN meriung untuk membahas penyelesaian masalah.

    "Ini baru semalam, sekitar pukul 7 malam, menyatakan kesiapan kerja sama,” kata Arrmanatha. "Yang pasti kami membutuhkan pesawat yang mampu membawa 10 ribu liter air untuk pemadaman."

    Menanggapi itu, Arrmanatha mengatakan bahwa persoalan asap sudah diatur dalam ASEAN Aggrement on Transboundary Haze yang diratifikasi 16 September tahun lalu. “Sudah menjadi kewajiban Indonesia untuk mengambil langkah pencegahan dan pemantauan api, lalu mengambil langkah hukum,” kata dia.

    Selain itu, katanya, ada satu kewajiban juga untuk membentuk ASEAN Coordinating Centre (ACC) untuk persetujuan tersebut. “Saat ini badan itu belum dibentuk. Selama ini pembahasan bersifat bilateral,” katanya.

    ARKHELAUS WISNU


     

     

    Lihat Juga