10 Korban Aviastar Teridentifikasi dari Pemeriksaan Gigi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga korban pesawat Aviastar DHC6/PK-BRM melakukan proses pengambilan data proses identifikasi jenazah di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, 7 Oktober 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    Keluarga korban pesawat Aviastar DHC6/PK-BRM melakukan proses pengambilan data proses identifikasi jenazah di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, 7 Oktober 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Makassar -Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat berhasil mengidentifikasi seluruh jenazah korban kecelakaan pesawat Aviastar, Rabu, 7 Oktober. Sebanyak 10 jenazah teridentifikasi dari pemeriksaan gigi yang diperkuat data medis dan properti.

    Kepala Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Inspektur Jenderal Pudji Hartanto Iskandar, mengatakan identifikasi itu dilakukan oleh tim DVI dibantu ahli forensik dan gigi dari Universitas Hasanuddin. Semula cuma tiga jenazah yang teridentifikasi dan diumumkan pada siang hari. Sisanya, identifikasi terhadap tujuh jenazah diumumkan pada malam hari di Rumah Sakit Bhayangkara.

    Pudji menyatakan berterima kasih kepada seluruh pihak yang membantu proses identifikasi. Adapun kepada keluarga korban, pihaknya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.

    Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan, Komisaris Besar R Harjuno, mengatakan bahwa berdasarkan data pemeriksaan gigi yang diperkuat data medis dan properti tidak terbantahkan semua jenazah adalah penumpang Aviastar rute Masamba-Makassar yang jatuh di Gunung Pajaja, Dusun Gamaru, Desa Ulu Salu, Latimojong, Luwu, Sulawesi Selatan.

    Jenazah berlabel B001 adalah Sakhi Abqory (1 tahun 10 bulan) yang tak lain adalah anak pasangan Riza Arman (30) dan Lisa Falentin (29). Riza berlabel B-009 dan Lisa adalah jenazah dengan label B-007. Riza adalah teknisi listrik Bandara Andi Djemma. Berikutnya, jenazah berlabel B-008 adalah Muhammad Natsir Lawa (56), Kepala Bandara Seko.

    Selanjutnya, jenazah berlabel B-006 adalah Nurul Fatimah (26), pegawai Bandara Andi Djemma. Adapun, dua jenazah anaknya yakni Rayya (3 tahun 11 bulan) diberikan label B-003 dan Afif (1 tahun 10 bulan) diberikan label B-002. Adapun, jenazah pilot Iriafriadi (40) diberikan label B-004 dan jenazah co-pilot Yudhistira (39) berlabel B-005. Sedang, jenazah teknisi Soekris Winarto (43) diberikan label B-010.

    Harjuno mengatakan metode pemeriksaan beragam, mulai dari super-impose sampai melihat ciri khas gigi dan memeriksa usia gigi. Kendati demikian, pemeriksaan medis lainnya dan pencocokan properti juga sangat membantu proses identifikasi yang berlangsung sejak Selasa, 6 Oktober itu.

    Pesawat Aviastar diketahui hilang kontak sekitar 11 menit setelah take-off dari Bandara Andi Djemma, Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Jumat , 2 Oktober, sekitar pukul 14.25 Wita. Tim SAR gabungan memulai pencarian lantaran pesawat yang diterbangkan Iriafriadi itu tidak kunjung tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, sesuai jadwal pada pukul 15.39 Wita. Setelah melaksanakan pencarian selama tiga hari, tim SAR gabungan akhirnya menemukan pesawat itu dengan kondisi seluruh awak dan penumpang tewas.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.