Korban Aviastar Dikenali Lewat Cincin Kawinnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan warga lokal mengevakuasi korban pesawat Aviastar DHC6/PK-BRM di Dusun Gamaru, Desa Ulu Salu, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, 5 Oktober 2015.  Sebanyak sepuluh korban pesawat Aviastar dan kotak hitam berhasil dievakuasi. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    Tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan warga lokal mengevakuasi korban pesawat Aviastar DHC6/PK-BRM di Dusun Gamaru, Desa Ulu Salu, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, 5 Oktober 2015. Sebanyak sepuluh korban pesawat Aviastar dan kotak hitam berhasil dievakuasi. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    TEMPO.CO, Makassar - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat mengumumkan identitas tiga jenazah yang menjadi korban kecelakaan pesawat Aviastar. Salah satunya adalah teknisi Aviastar, Soekris Winarto, 43 tahun. Adapun dua jenazah lain yang berhasil diidentifikasi adalah Nurul Fatimah Muhajir, 26 tahun, dan Riza Arman, 30 tahun. Sedangkan tujuh jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi. Tim DVI mengusahakan identifikasi rampung pada Rabu, 7 Oktober 2015.

    Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulawesi Selatan dan Barat Komisaris Besar Raden Harjuno mengatakan korban yang paling pertama teridentifikasi adalah Nurul Fatimah. Perempuan yang bekerja di Bandara Andi Djemma itu dikenali melalui data primer berupa pencocokan dental anatomi gigi berdasarkan foto semasa hidupnya. Hal itu diperkuat dengan data sekunder berupa jenis kelamin dan properti yang melekat pada tubuh ibu dua anak tersebut.

    Harjuno mengatakan jenazah Nurul yang diberi label B-006 masih menggunakan cincin kawin emas bertuliskan nama suaminya, Kamaruddin. "Dari data itu, tidak terbantahkan jenazah dengan label B-006 itu adalah Nurul Fatimah, warga Jalan Sunu, Makassar," kata Harjuno di Rumah Sakit Bhayangkara, Rabu, 7 Oktober 2015. Adapun jenazah dua anaknya, yakni Rayya dan Afif, masih dalam proses identifikasi. "Kami masih terus bekerja," ucap dia.

    Selanjutnya, jenazah Riza Arman yang diberi label B-009 berhasil diidentifikasi berdasarkan data sekunder. Harjuno mengatakan pihaknya melakukan pemeriksaan gigi dan mengetahui jenazah berjenis kelamin laki-laki itu memiliki usia gigi 20-40 tahun. Hal itu diperkuat dengan properti pangkat bengkok yang melekat di pundak teknisi listrik Bandara Andi Djemma itu. Riza diketahui merupakan warga Jalan Jambu Putih, Kecamatan Poasia, Kendari.

    Sedangkan jenazah Soekris Winarto yang berlabel B-010 berhasil dikenali melalui pemeriksaan gigi pada data sekunder. Harjuno menyebut pihaknya mendapati bahwa giginya tampak kekuningan dan sebagian gigi belakang tidak ada. Hal itu sesuai dengan informasi dari keluarga. "Itu diperkuat lagi dengan pakaian yang melekat berwarna biru tua," katanya. Soekris diketahui merupakan teknisi Aviastar yang beralamat di Jalan Mera, Kecamatan Mandala Kota, Kabupaten Biak Numfor.

    Salah seorang Anggota Tim Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, drg Muliaty Yunus, mengatakan semua jenazah berhasil diidentifikasi melalui pemeriksaan gigi. Musababnya, pemeriksaan sidik jari sulit dilakukan lantaran kondisi jenazah yang hangus terbakar. Adapun pemeriksaan DNA membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kami masih lakukan pemeriksaan terhadap tujuh jenazah lainnya. Semoga bisa cepat dikenali," katanya.

    Pesawat Aviastar diketahui hilang kontak sekitar 11 menit setelah take-off dari Bandara Andi Djemma, Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Jumat, 2 Oktober, sekitar pukul 14.25 Wita. Tim SAR gabungan memulai pencarian lantaran pesawat yang diterbangkan Iriafriadi itu tidak kunjung tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sesuai jadwal pada pukul 15.39 Wita. Setelah melaksanakan pencarian selama tiga hari, tim SAR gabungan akhirnya menemukan pesawat itu.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.