Calon Doktor ITB Gelar Pameran Mainan Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang siswa melakuan tendangan penalti pada pertandingan Liga Sepak Bola Kancing Indonesia di Bandung, Jawa Barat, 20 September 2014. Sekitar 100 Sekolah Dasar dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung mengikuti permainan yang digagas oleh Komunitas Hong. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Seorang siswa melakuan tendangan penalti pada pertandingan Liga Sepak Bola Kancing Indonesia di Bandung, Jawa Barat, 20 September 2014. Sekitar 100 Sekolah Dasar dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung mengikuti permainan yang digagas oleh Komunitas Hong. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Bandung - Mahasiswa doktoral Ilmu Seni Rupa dan Desain Sekolah Pasca Sarjana ITB, Mohamad Zaini Alif menghelat pameran Kaulinan Urang Lembur (mainan orang desa). Pameran bersama komunitas Hong yang dibentuknya itu berlangsung dua hari, 6-7 Oktober 2015 di Aula Timur ITB.

    Mainan yang dipamerkan umumnya berbahan baku dari bambu atau kayu dengan beragam ukuran. Misalnya mainan kendaraan beroda tunggal atau dua hingga empat, congklak, juga gambar toong berupa kotak kayu berpenyangga dengan gambar slide film di dalamnya. Beberapa mainan hanya bisa dihadirkan lewat gambar-gambar di dinding sekat ruang pamer disertai keterangan.

    Zaini dan komunitasnya sejak lama mengumpulkan dan mendata mainan anak tradisional Sunda yang tersebar di wilayah Banten dan Jawa Barat. Hasilnya, tercatat sedikitnya 240 mainan dan permainan, seperti tokecang, galahasin, loncat tinggi, ngadu muncang, gatrik, tatarucingan. Zaini kini punya kajian baru soal mainan anak-anak untuk meraih gelar doktor di ITB. “Tentang transmisi nilai-nilai dalam permainan tradisional Sunda,” ujarnya.

    Hasil penelusurannya dan studi berbagai jenis permainan di sejumlah lokasi dunia, umumnya berkaitan. Ia melihat ada pengaruh signifikan dari permainan yang anak-anak mainkan semasa kolonialisme. Ada proses akulturasi ketika itu.

    Salah seorang dosen pembimbingnya, Setiawan Sabana mengatakan, Zaini dalam studi doktoralnya mengusung asumsi soal permainan tradisional Indonesia yang tidak terpengaruh budaya lain atau asli khas lokal. Dia melihat masyarakat Baduy Dalam. “Di sana permainan adalah pekerjaan anak yang tidak bersifat hiburan tapi kegiatan harian,” kata Sabana. Permainan itu yang membantu anak untuk hidup mandiri, berbakti pada keluarga, komunitas, dan taat nilai adat.

    Menurut Sabana, Zaini telah menempuh studi selama 3,5 tahun. Karya ilmiahnya tersebut akan diselesaikannya segera.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.