Kabut Asap, Warga Riau Borong Tabung Oksigen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Akibat kabut asap jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. ANTARA/Rony Muharrman

    Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Akibat kabut asap jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan kian pekat menyelimuti Riau. Kualitas udara memburuk melebihi ambang batas mencapai 900 Psi atau berbahaya. Pekatnya asap menyebar hingga ke dalam rumah. Alhasil warga Pekanbaru terpaksa menggunakan alat bantu oksigen untuk bernafas.

    "Tidak ada lagi tempat berlindung, rumah pun sudah dimasuki asap," kata Denny, warga Jalan pontianak, saat ditemui Tempo, di Toko Indo Alkes, Jalan Ahmad Yani, Pekanbaru. Selasa, 6 Oktober 2015. (Lihat video Serbuan Asap Indonesia Batalkan Sejumlah Pertandingan Olahraga, Inilah Penyebab Kabut Asap belum Berakhir)

    Denny harus membeli dua tabung oksigen merk Oxytan untuk keluarganya di rumah. Denny mengaku, dia, istri dan dua anaknya sudah tidak sanggup lagi menahan kepungan asap yang menyesaki rumah. "Kasian anak saya masih kecil-kecil," kata Denny.

    Pembeli lainnya Harsya mengatakan, kabut asap juga sudah menyesaki kantor tempatnya bekerja. Dia membeli dua tabung oksiben merk Oxytan untuk dipakai bersama rekan kerjanya di kantor. "kantor kami juga dipenuhi asap," katanya.

    Pantauan Tempo di Toko alat kesehatan Indoalkes, Jalan Ahmad Yani, terus didatangi warga, baik itu membeli oksigen maupun masker. Pemilik toko alat kesehatan pun dibuat kewalahan memenuhi permintaan konsumen yang melonjak tajam menyusul kabut asap semakin pekat. "Kami kehabisan stok barang," kata Pemilik Toko, Oscar, saat ditemui Tempo.

    Padahal kata Oscar, toko miliknya merupakan distributor alat kesehatan wilayah I di Sumatera. Dia selalu kehabisan stok barang seperti oksigen dan masker lantaran permintaan tinggi. Belum lagi harus memenuhi permintaan rumah sakit dan instansi swasta dan pemerintahan dalam jumlah besar. "Permintaan tinggi, tapi stok barang itu tidak ada," kata Oskar.

    Oskar menjelakan, dalam satu bulan biasanya dia mendapatkan pasokan oksigen merk Oxytan sebanyak 75 kotak. 1 Kotak berisi 12 tabung, 1 tabung oksigen harganya Rp 50 ribu. Oksigen jenis ini hanya dapat dipakai enam kali dengan cara disemprotkan ke mulut. "Dalam sehari saja habis empat kotak," ujarnya.

    Menurut Oscar, warga bahkan membeli oksgen tabung 12 kilogram untuk disediakan di rumah. Padahal oksigen tersebut biasanya digunakan oleh rumah sakit di ruang perawatan. Namun pekatnya asap di Pekanbaru membuat masyarakat khawatir sehingga harus menyediakan oksegen tabung 12 kg di rumah.

    Untuk oksigen tabung ini dijual dengan harga Rp 850 ribu satu set beserta trolinya. Oksigen ini dapat diisi ulang dengan harga pengisian Rp 35 ribu satu tabung. "Tapi untuk oksigen tabung ini juga sudah habis," kata Oscar.

    Oscar mengaku kebingungan mencari stok barang. Menurut Oscar, terputusnya stok oksigen di Riau disebabkan lumpuhnya Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru akibat kabut asap, sehingga barang yang dipesan melalui jasa pelayanan cargo terhambat. "Pesawat tidak bisa terbang, cargo jadi terhambat. Daerah tetangga seperti Padang dan Medan pun tidak mau memberikan barang karena mereka juga terdampak asap," jelasnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.