Walhi Desak Bencana Asap Jadi Darurat Nasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelajar mengenakan masker di MTs An Nur, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Anak-anak terutama bayi berumur di bawah lima tahun paling rentan terkena dampak kabut asap karena pada umur tersebut saluran nafas belum terbentuk sempurna. ANTARA/Rosa Panggabean

    Pelajar mengenakan masker di MTs An Nur, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Anak-anak terutama bayi berumur di bawah lima tahun paling rentan terkena dampak kabut asap karena pada umur tersebut saluran nafas belum terbentuk sempurna. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Munhur Satyahaprabu mendesak pemerintah agar bencana asap di sejumlah titik di Indonesia dinaikkan menjadi darurat nasional. "Ada unsur kejahatan luar biasa sehingga penanganannya harus sangat serius," kata Munhur di Ruang Galeri Walhi, Senin, 5 Oktober 2015.

    Menurutnya, dengan menaikkan status asap menjadi darurat nasional, pemerintah lebih serius dan masif menindak hukum korporasi yang diduga harus bertanggung jawab. Kajian Walhi menemukan hampir 80 persen titik api berada di area konsesi sejumlah perusahaan swasta. Walhi menduga lebih dari 20 korporasi terlibat dalam kejahatan asap, sebagian berasal dari beberapa grup besar.

    Oleh sebab itu, Walhi mendesak agar pemerintah juga segera mendeklarasikan extraordinary crime atau kejahatan luar biasa. Keseriusan pemerintah, kata dia, harus diperkuat dengan tidak hanya penanganan asap. "Kalau perlu pemerintah harus memiskinkan perusahaan yang menjadi penyebabnya," kata Munhur.

    Soal penolakan bantuan yang ditawarkan oleh Singapura dan Malaysia, Walhi tidak mempermasalahkan. Selama penanganannya serius, kata dia, Walhi mendukung apa yang menjadi urusan pemerintah.

    Hal yang terpenting, menurut Munhur, bencana asap ini tidak boleh terulang kembali. Sebab, bencana kebakaran hutan dan kabut asap telah banyak yang menjadi korban. "Bahkan bayi di sejumlah daerah ikut tewas menjadi korban asap," kata dia.

    Dari catatan Tempo, sedikitnya 150 ribu orang di enam provinsi terdampak asap yang membuat kualitas udara berada di level sangat membahayakan. Sebagian besar menderita peradangan akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Enam provinsi itu antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.