G30S: Bukti Keterlibatan Badan Intelijen Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lambang Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen Amerika, yang terdapat di Lobi Markas Besar CIA di Langley. cia.gov

    Lambang Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen Amerika, yang terdapat di Lobi Markas Besar CIA di Langley. cia.gov

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat militer dari Pro Patria, Hari Priyantono, memastikan ada keterlibatan Badan Intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965.

    “Keterlibatan CIA jelas ada. Secara resmi sudah diakui dari keluarnya dokumen-dokumen mereka,” kata Hari kepada Tempo, Ahad, 4 Oktober 2015. (Lihat video Jejak CIA dalam Tragedi G30S 1965, Ini Dia Fakta Penyiksaan Jenderal Saat G30S)

    Dokumen itu, menurut Hari, secara kuat membuktikan keterlibatan CIA dalam peristriwa yang memakan banyak korban jiwa itu. Dokumen yang ada di tingkat Internasional tersebut, menurut Hari, mengarah pada konspirasi militer antara CIA dengan Angkatan Darat Indonesia.

    "Bahkan bukan hanya keterlibatan CIA, melainkan keterlibatan Amerika dalam kejatuhan Soekarno," kata dia.

    Anton Aliabbas juga membenarkan keterlibatan CIA dalam G 30S. Pengamat militer dari  Digimed Karya Imaji ini mengatakan gerakan itu tidak terlepas dari perang dingin yang terjadi antara Amerika dengan Uni Soviet.

    Dari dalam negeri sendiri, Anton menyebut Soekarno dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sedangkan tentara Indonesia tidak suka dengan PKI, bahkan ada rivalitas dalam kubu TNI.

    "Akan tetapi, ada upaya dari Amerika untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Soekarno melalui militer Indonesia," katanya.

    DANANG FIRMANTO

    Baca juga:
    G30 S 1965: Benarkah Amerika Bikin Daftar Orang-orang yang Dibunuh?
    Omar Dani: CIA Terlibat G30S 1965 dan Soeharto yang Dipakai


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.