Militer Indonesia Terkuat di ASEAN? Begini Petanya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prajurit TNI AD beraksi dalam demo Yongmoodo pada geladi Peringatan HUT ke-70 TNI di Dermaga Indah Kiat, Merak, Banten, 3 Oktober 2015. Peringatan tahun ini bertema

    Prajurit TNI AD beraksi dalam demo Yongmoodo pada geladi Peringatan HUT ke-70 TNI di Dermaga Indah Kiat, Merak, Banten, 3 Oktober 2015. Peringatan tahun ini bertema "Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat, Profesional, Siap mewujudkan Indonesia yang berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian." TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Global Firepower (GFP),  sebuah situs yang menyediakan analisis kekuatan militer sebagian besar negara di dunia, menempatkan Indonesia menjadi negara dengan militer terkuat ke-12 di dunia. Posisi Indonesia tepat di bawah Israel dan di atas Australia. Dengan posisi ini,  militer Indonesia menjadi  negara paling kuat di Asia Tenggara.

    Pengamat Militer dari Digimed Karya Imaji, Anton Aliabbas menganggap positif analisis GFP tersebut. Namun demikian, dia menganggap kekuatan militer Indonesia baru sebatas kuantitas. “Kalau indikatornya kuantitas, ya. Tapi kalau dari segi kualitas belum, masih banyak PR yang harus diselesaikan,” kata Anton saat dihubungi Tempo pada Ahad, 4 Oktober 2015.

    Dari segi anggaran pertahanan, kata Anton, secara umum ada peningkatan anggaran untuk militer Indonesia. Alutsista yang dimiliki Indonesia dari segi kuantitas lebih baik dibanding Singapura atau Malaysia. Namun dari segi kualitas, baik senjata maupun kesejahteraan prajurit, menurut Anton, belum tentu terbaik dibanding negara-negara ASEAN.

    Anton mengatakan ada kekuatan militer yang dibentuk pada 1971 bernama Five Power Defence Arrangement (FPDA). Negara yang masuk dalam keanggotaan FPDA diantaranya Singapura, Malaysia, Inggris, Australia, dan New Zealand. Apabila dari salah satu negara tersebut diserang Indonesia, negara-negara lain yang menjadi anggota bisa mambantu. “Mereka punya aliansi, tapi Indonesia tidak,” katanya.

    Anton menilai bukan hanya soal kuantitas yang harus ditingkatkan, melainkan transparansi serta akuntabilitas pembelian alutsista. Ia mencontohkan pembelian pesawat sukoi yang belum diketahui persis harga satuan pesawat tersebut. Belum lagi tidak ada audit yang dilakukan pascapembelian alutsista yang dilakukan TNI.

    Kesejahteraan prajurit TNI, kata Anton, juga penting dipenuhi. Bukan hanya kesejahteraan dari segi gaji, melainkan jaminan kesehatan dan pendidikan bagi keluarganya. “Soal komitmen membangun pertahanan, bangun yang punya efek gentar. Mempersenjatai prajurit yang paling penting adalah nyawa prajurit itu sendiri,”ujar Anton.

    DANANG FIRMANTO

     Baca juga:
    TNI  & G30 September 1965: Inilah 5 indikasi Keterlibatan Amerika!

    EKSKLUSIF G30S 1965: Begini Pengakuan Penyergap Ketua CC PKI Aidit



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Rencana Pendapatan dari Pajak 2019 BPRD DKI Jakarta

    Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta menetapkan target pendapatan dari pajak sebesar Rp 44,18 triliun pada 2019. Berikut rincian target BPRD.