Peringatan Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Surabaya Batal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pemuda mengikuti upacara Sumpah Pemuda di Kabupaten Jayapura, Papua, (28/10). Peserta upacara tersebut merupakan sejumlah pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. ANTARA FOTO/Dian Kandipi

    Sejumlah pemuda mengikuti upacara Sumpah Pemuda di Kabupaten Jayapura, Papua, (28/10). Peserta upacara tersebut merupakan sejumlah pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. ANTARA FOTO/Dian Kandipi

    TEMPO.CO, Surabaya - Peringatan Hari Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Nusantara yang rencananya diadakan di Surabaya hari ini, Minggu, 4 Oktober 2015, batal diadakan.

    Sedianya acara ini digelar untuk mengenang peristiwa Kongres Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada 81 tahun silam, tepatnya pada 4-5 Oktober 1934, di Semarang.

    “Acaranya diundur. Nanti kalau ada saya info lebih detail,” kata Nabiel A. Karim Hayaze, selaku penyelenggara kepada Tempo, melalui pesan singkat. Ia tak menjelaskan lebih rinci alasan penundaan acara tersebut.

    Acara peringatan semula akan diselenggarakan di Jalan KH Mas Mansur dan Jalan Sasak. Warga keturunan Arab di sekitar lokasi mengaku tak mendengar acara yang dimaksud. “Memang beberapa tahun belakangan ada perayaan, tapi untuk memperingati 17 Agustus-an. Dan yang mengadakan adalah Pemerintah Kota Surabaya,” ujar seorang pria yang sedang duduk di depan gang Kalimas.

    Pada masa itu, para pemuda keturunan Arab berkumpul untuk berkomitmen menegakkan Indonesia sebagai tanah air mereka. Dalam Kongres Sumpah Pemuda Keturunan Arab itu, terdapat tiga pernyataan deklarasi.

    Pertama, tanah air peranakan Arab adalah Indonesia. Kedua, peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (eksklusif). Ketiga, peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

    Salah satu tokoh Arab yang menginisiasi pelaksanaan kongres tersebut adalah A.R. Baswedan, kakek Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Kesepakatan yang dibuat dalam kongres tersebut adalah mengakui Indonesia sebagai tanah air. A.R. Baswedan pun disebut sebagai tokoh Arab yang paling getol memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.