G30S, Politikus PKI Anak Haji Penghafal Quran dan Bung Karno  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putmainah (87), mantan Ketua Gerwani dan Politikus PKI ketika diwawancarai Tempo di rumahnya di Blitar, 22 September 2015.

    Putmainah (87), mantan Ketua Gerwani dan Politikus PKI ketika diwawancarai Tempo di rumahnya di Blitar, 22 September 2015.

    TEMPO.CO, Blitar - Putmainah,  Ketua Gerakan Wanita Indonesia Kabupaten Blitar berkisah tentang Gerakan 30 September 1965 dan kerasnya persaingan politik di Kabupaten Blitar pada tahun itu. Perempuan renta berusia 87 tahun itu, menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong dari Partai Komunis Indonesia ketika  G30S 1965 pecah. “Setiap rapat saya selalu perang dengan anggota DPRD dari Partai NU (Nahdlatul Ulama),” kata Putmainah kepada Tempo di rumahnya di Blitar, Jawa Timur pada Selasa 22 September 2015 lalu.

    Perseteruan di tingkat dewan ini tak jarang diikuti dengan intimidasi dan teror fisik antara politikus PKI dan NU. Putmainah mengklaim politikus NU kerap menggebrak meja dan membawa parang ketika berdebat. Perseteruan ini, menurut Putmainah di antaranya dipicu oleh sikapnya yang kerap menginvestigasi korban kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren.

    Baca:
    PKI-NU Mesra Kalahkan Calon TNI, Pembunuhan 1965 Menggila
     
    G30S 1965, Seberapa Keterlibatan CIA di Indonesia?

    Sebagai wakil rakyat, dia merasa terpanggil untuk membela para santri perempuan yang dicabuli pemimpin pondok. Namun tak jarang pula sepak terjang Putmainah membawanya pada pertikaian yang lebih besar dengan kalangan NU. “Saya berani bersikap demikian karena saya dekat dengan Bung Karno,” katanya.

    Kepada siapa pun, Putmainah  selalu mengaku sebagai anak ideologis Bung Karno. Kedekatan dengan keluarga Sukarno ini berawal saat ayahnya menitipkannya kepada Soekarmini, kakak kandung Sukarno untuk belajar ilmu politik. Soekarmini menikah dengan Wardoyo, dan belakangan dikenal dengan sebutan Bu Wardoyo, atau Bude Wardoyo.

    Putmainah remaja yang tamatan sekolah Taman Siswa Tulungagung dengan cepat menjadi kerabat baru keluarga Wardoyo dan tinggal serumah di Dusun Gebang, Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

    Masuknya Putmainah ke lingkungan keluarga Sukarno ini bukan tanpa alasan. Putmainah adalah anak Haji Mansyur, Ketua organisasi Sarikat Islam Merah Kabupaten Blitar yang juga penghafal Al Quran atau hafiz. Dari pergulatan pemikiran sang ayah pula Putmainah mengenal dasar-dasar ajaran komunis dan mengantarkannya aktif ke dalam Organisasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Haji Mansyur tewas dalam peristiwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. (Lihat video Jejak CIA dalam Tragedi G30S 1965, Ini Dia Fakta Penyiksaan Jendral Saat G30S)

    Selain dari sang ayah, darah politik Putmainah juga diwariskan oleh kakeknya KH Abdurrahman.  Dia adalah laskar Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke Jawa Timur setelah terdesak pasukan Belanda. Latar belakang inilah yang membuat Putmainah mudah diterima oleh keluarga Bung Karno di Blitar sambil memperdalam ilmu politik secara langsung.

    Putmainah menyatakan aktivitasnya di Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) turut menyumbang konflik dengan warga NU di Blitar. Kepiawaiannya melakukan pendekatan kepada kelompok tani, nelayan, hingga buruh pabrik membuat SOBSI tumbuh menjadi organisasi pekerja yang besar.

    HARI TRI WASONO

     Baca juga:
    TNI  & G30 September 1965: Inilah 5 indikasi Keterlibatan Amerika!

    EKSKLUSIF G30S 1965: Begini Pengakuan Penyergap Ketua CC PKI Aidit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.