Sebelum Habisi Salim Kancil, Desir cs Isi Ilmu Kebal ke Kiai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendopo balai Desa Selok Awar-awar Lumajang yang menjadi tempat penganiayaan Salim Kancil. TEMPO/Ika Ningtyas

    Pendopo balai Desa Selok Awar-awar Lumajang yang menjadi tempat penganiayaan Salim Kancil. TEMPO/Ika Ningtyas

    TEMPO.CO, Lumajang - Kepala Kepolisian Resor Lumajang Ajun Komisaris Besar Fadly Munzir Ismail membeberkan kronologi pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan Tosan, dua warga penolak tambang pasir pantai di Kecamatan Pasirian, Jumat, 2 Oktober 2015. Fadly memaparkan kronologi tersebut di hadapan anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat yang berkunjung ke Lumajang.

    Menurut Fadly, sore hari sebelum peristiwa penganiayaan terjadi, Tosan menyerahkan surat izin ke Polres Lumajang untuk menggelar unjuk rasa antitambang. Penyerahan surat pemberitahuan unjuk rasa itu diketahui Desir dan kawan-kawan yang dikenal dengan sebutan tim 12.

    Merespons rencana Tosan, malam harinya, 25 September 2015, digelar pertemuan di Balai Desa Selok Awar-awar dipimpin ketua tim 12 serta dihadiri beberapa orang. Mereka akan melakukan aksi tandingan. Anggota Badan Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat yang mendengar rencana tersebut segera mendatangi balai desa. Babinkamtibmas pergi setelah ada kesepakatan untuk tidak melakukan aksi tandingan.

    Namun rapat kecil tetap diteruskan. Sekitar pukul 22.00 WIB, dipimpin oleh Desir dan Siari, mereka pergi ke Probolinggo untuk menemui seorang kiai dengan maksud mengisi ilmu kebal terhadap 60 orang. Pengisian ilmu kebal itu selesai pada pukul 02.00 WIB.

    Mereka kemudian kembali ke balai desa untuk berkumpul. Saat kembali ke balai desa itulah, salah seorang teman Desir bertemu dengan Tosan yang sedang membagi-bagikan surat edaran kepala desa tentang kesepakatan pemberhentian sementara penambangan pasir.

    Terjadi cekcok mulut hingga teman Desir itu meneruskan perjalanan ke balai desa. Dikomandoi Desir dan Siari, sekelompok orang ini kemudian mendatangi rumah Tosan. Tosan dikejar dan dianiaya hingga ke lapangan. Tosan jatuh tersungkur. Menyangka Tosan sudah meninggal, sekelompok orang itu pergi dan ganti menuju rumah Salim alias Kancil. Salim digelandang ke balai desa.

    Letak balai desa berdekatan dengan rumah Kepala Desa Hariyono. Salah seorang aparatur desa melapor ke kepala desa bahwa sedang terjadi penganiayaan di balai desa. Kepala Desa kemudian menyuruh massa pergi. Akhirnya massa pergi sambil membawa Salim Kancil. Selama dalam perjalanan, Salim terus dianiaya sehingga akhirnya ditemukan tewas di tengah jalan.

    DAVID PRIYASIDHARTA

    Baca juga:

    Kisah Salim Kancil Disetrum, Tak Juga Tewas: Inilah 3  Keanehan
    EKSKLUSIF G30S 1965: Begini Pengakuan Penyergap Ketua CC PKI Aidit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.