TRAGEDI SALIM KANCIL: Rumah Mewah Lurah hingga Pajero Sport  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan  petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Lumajang - Kepala Desa Selok Awar-awar yang menjadi tersangka penganiayaan Salim Kancil dan Tosan, Hariyono, dikenal punya gaya hidup mewah setelah memiliki tambang pasir.

    Muhammad Hariyadi, warga desa setempat, mengatakan setahun terakhir Hariyono sering berganti-gati mobil mewah. Dia mengungkapkan Hariyono memiliki lima mobil. "Yang paling sering pakai Pajero Sport," kata Hariyadi, Jumat, 2 Oktober 2015.

    Selain mobil, kepala desa juga sedang membangun rumah lantai dua. "Gaya hidup tak layaknya seorang kepala desa," kata dia.

    Saat Tempo menyambangi rumah Hariyono, sekitar 50 meter dari balai desa, rumah tersebut tampak paling mewah di Desa Selok Awar-awar. Rumah berlantai dua berdiri setengah jadi di sebelah rumah lamanya. Dua rumah ini berada dalam pekarangan 20 x 35 meter.  (Lihat video Pembunuhan Salim Kancil, Dari ABG Sampai Kepala Desa Jadi Tersangka, Sebelum Tewas, Salim Kancil Sempat Mengadu Ke Polres. Aparat lalai?)

    "Baru dibangun empat bulan ini," kata salah seorang kerabat Hariyono.

    Hariyadi mengaku senang dengan penetapan Hariyono sebagai tersangka. Alasannya karena dikenal bergaya hidup mewah, Hariyono juga sering mengancam warganya yang sering memprotes keberadaan tambang pasir. "Saya pernah diancam dibunuh," kata mahasiswa salah satu kampus di Lumajang ini.

    Sekretaris Desa Selok Awar-awar, Rahmad, mengatakan Hariyono menjabat sebagai kepala desa selama dua periode. Sejak 2006-2012 dan 2013-2019. Sebelum menjadi kepala desa, Hariyono bergerak dalam jual-beli sepeda motor serta punya sepetak ladang.

    Sedangkan tambang pasir di Pantai Watu Pecak, kata Rahmad, baru beroperasi 2014. Pihak desa menarik retribusi pertambangan pasir melalui peraturan desa yang diterbitkan saat tambang beroperasi. "Sekali jalan truk dipungut Rp 10 ribu," katanya.

    Namun anehnya, tidak ada pemasukan retribusi tambang pasir ke kas desa. Rahmad mengaku selama ini tidak pernah dilibatkan dalam pengaturan tambang pasir di desa.

    Sebelumnya, Kepolisian Resor Lumajang menetapkan Hariyono sebagai tersangka tambang ilegal, pembunuhan dan pengeroyokan terhadap Salim Kancil dan Tosan pada 26 September 2015.

    IKA NINGTYAS

    Baca juga:
    Kisah Salim Kancil Disetrum, Tak Juga Tewas: Inilah 3  Keanehan  
    EKSKLUSIF G30S 1965: Begini Pengakuan Penyergap Ketua CC PKI Aidit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.