Mahasiswa UIN Gelar Aksi Solidaritas untuk Salim Kancil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan  petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, yang tergabung dalam kelompok Di Bawah Pohon Rindang Society, menggelar aksi solidaritas untuk Salim Kancil dan Tosan, Jumat, 2 Oktober 2015. Dalam aksinya, mereka mengecam aksi penganiayaan dan pembunuhan terhadap dua petani asal Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, tersebut.

    Mia Indria, selaku koordinator acara tersebut, mengatakan acara tersebut ditujukan sebagai bentuk kecaman atas tewasnya petani kritis penolak tambang Salim Kancil. Selain itu, mahasiswa jurusan ilmu komunikasi jurnalistik tersebut menuntut polisi dan pemerintah mengusut kasus ini hingga tuntas.

    "Kami menyatakan sikap terhadap pembunuhan aktivis lingkungan Salim Kancil," ujar Mia, Jumat, 2 Oktober 2015.

    Acara tersebut dimulai dengan membacakan doa bersama dan penggalangan dana yang ditujukan untuk biaya perawatan dan pengobatan Tosan, yang kini masih dirawat di rumah sakit. Selain itu, aksi yang digelar di tengah kampus UIN Bandung itu mengadakan acara diskusi dengan tema "Tambang Menjulang Nyawa Petani Hilang".

    Sementara itu, situs petisi Change.org hingga hari ini sudah didukung 40 ribu orang. Dalam petisi online tersebut, Kepala Kepolisian RI diminta mengusut tuntas kasus itu.

    Pada 26 September 2015, dua warga Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, diduga menjadi korban penyerangan sekelompok orang. Aksi kekerasan ini membuat seorang warga tewas dan seorang kritis. Korban tewas adalah Salim, 52 tahun, warga Dusun Krajan II. Sedangkan korban yang kritis adalah Tosan, 51 tahun, warga Dusun Persil. Keduanya merupakan petani yang dengan keras menolak penambangan pasir di Desa Selok Awar-awar.

    IQBAL T. LAZUARDI S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.