Duit Beasiswa Telat, Mahasiswa Asal Papua Curhat ke Menteri Nasir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menristek Dikti Mohamad Nasir. TEMPO/Imam Sukamto

    Menristek Dikti Mohamad Nasir. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -- Seorang penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi untuk Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal Ince Mewa mengeluh kepada Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir tentang pengalamannya. "Kami kendala karena pengiriman uangnya selalu telat," kata Ince dalam sebuah sesi tanya jawab pada Upacara Penyerahan Beasiswa Korban Bencana Alam Gunung Sinabung, Beasiswa Bidikmisi dan Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi untuk daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal di Auditorium Universitas Medan, Medan, Sumatera Utara Kamis 1 Oktober 2015.

    Ince mengatakan ia seharusnya menerima dana sebesar satu juta rupiah setiap bulannya. Sayang, pengiriman dana itu sering mengalami keterlembatan hingga tiga bulan lamanya. "Payah kami," kata mahasiswa semester lima jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan ini.

    Ince  kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya karena uang yang diterimanya baru datang tiga bulan kemudian. Untuk biaya diklat saja, kata Ince, ia bisa sampai menghabiskan sebanyak Rp 500 ribu perbulan, sehingga jatah untuk makan semakin sedikit. Yang lebih kasihan, pernah ada adik kelasnya yang sakit saat dana dari Kementerian Ristek Dikti belum juga cair. "Akhirnya kami urunan sepuluh ribu-dua puluh ribu untuk kawan kami yang sakit," katanya.

    Ince yang berasal dari Wamena Papua itu juga merasa susah bila harus menghubungi orang tua untuk meminta tambahan dana. "Kami sulit hubungi orang tua karena susah sinyal," kata anak petani ini.

    Gadis 20 tahun ini berharap pemerintah bisa mengirimkan dana beasiswanya secara teratur perbulan. Sehingga ia tidak perlu merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari. "Bagaimana bisa belajar dengan baik kalau membiayai kebutuhan hidup susah karena beasiswanya telat," kata perempuan yang hanya mengandalkan dana dari Kemenristek Dikti ini untuk hidupnya.

    Keluhan Ince disambut tepuk tangan yang meriah dari ratusan pengunjung di dalam auditorium itu. Mereka seolah memberikan semangat untuk Ince yang tengah menyampaikan unek uneknya mewakili rekan rekannya langsung kepada Menteri Nasir.

    Menanggapi kritik Ince, Nasir mengatakan keluhan Ince akan jadi masukan bagi timnya. Ia dan tim akan berusaha memperbaiki sistem penyaluran dana kepada mahasiswa. Ia mengaku pernah mendengar kisah serupa. Menurut Nasir, ia pernah mendengar seorang anak penerima beasiswa yang sama harus mengirim sebanyak dua ratus ribu dana beasiswanya untuk adiknya yang juga sedang bersekolah tingkat SMA di kampung halaman.

    Menurut mantan Rektor Universitas Diponegoro ini, terlambatnya pengiriman dana itu terjadi karena data mahasiswa penerima beasiswa biasanya juga terlambat tiba di Kementerian Ristek dan Dikti. Ia berharap para rektor bisa cepat memberikan data agar pengiriman pun cepat diberikan.

    Pada kesempatan itu, Nasir pun menginstruksikan agar ke depannya dana diberikan langsung pertiga bulan di bulan pertama, bukan langsung dikirim pertiga bulan tapi di bulan terakhir. "Nanti akan dikirim per-triwulan pertama di awal, bukan pada bulan belakang," katanya.

    Pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, Menteri Nasir memberikan beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi untuk dua perguruan tinggi di wilayah Medan. Terdapat 81 mahasiswa Sumatera Utara dan 13 mahasiswa Universitas Negeri Medan yang berasal dari daerah terdepan, terluar dan tertinggal Indonesia penerima beasiswa kali ini.

    Para mahasiswa ini mendapat sebanyak Rp 1 juta permahasiswa untuk setiap bulannya dengan rincian Rp 400 ribu dikirim ke perguruan tinggi untuk biaya kuliah, dan Rp 600 ribu diberikan kepada mahasiswa untuk biaya hidupnya.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.