SALIM KANCIL DIBUNUH: Bebaskan Kades, Istri Tertipu Rp 75 Juta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tersangka aksi kekerasan terhadap aktivis petani penolak tambang di tunjukkan di depan jurnalis di Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur, Surabaya, 30 September 2015. 22 pelaku penganiayaan ditahan usai melakukan kekerasan pada dua aktivis penolak tambang pasir Salim Kancil dan Tosan. FULLY SYAFI

    Sejumlah tersangka aksi kekerasan terhadap aktivis petani penolak tambang di tunjukkan di depan jurnalis di Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur, Surabaya, 30 September 2015. 22 pelaku penganiayaan ditahan usai melakukan kekerasan pada dua aktivis penolak tambang pasir Salim Kancil dan Tosan. FULLY SYAFI

    TEMPO.CO, Lumajang - Istri dari Hariyono, Kepala Desa Selok Awar-awar yang menjadi tersangka pembunuhan Salim Kancil, menjadi korban penipuan sebesar Rp 75 juta. Penipuan tersebut dengan mencatut nama Kepala Kepolisian Resor Lumajang Ajun Komisaris Besar Fadly Munzir Ismail dan Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Lumajang Heri Sugiyono.

    Kapolres Fadly menceritakan, munculnya kasus pembunuhan Salim Kancil tersebut dimanfaatkan pihak tertentu untuk mencari keuntungan dari keluarga tersangka.

    Pelaku kemudian menghubungi istri Hariyono untuk meminta uang dengan iming-iming suaminya yang menjadi tersangka itu tidak akan ditahan. "Istrinya langsung menyanggupi dengan mentransfer Rp 75 juta," katanya.

    Fadly menegaskan bahwa dia maupun Kasat Reskrim tidak melakukan permintaan uang untuk menghentikan kasus. Bahkan sebaliknya, Polres serius untuk menuntaskan kasus yang menewaskan Salim Kancil itu. "Kasus ini sudah jadi atensi pimpinan tertinggi dan masyarakat," katanya.

    Hariyono telah ditetapkan tersangka sebagai pengelola tambang ilegal sekaligus dijerat dengan tiga pasal sekaligus. Yakni Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana, dan Pasal 170 tentang Pengeroyokan dan Pengrusakan.

    IKA NINGTYAS

    Baca juga:
    Kisah Salim Kancil Disetrum, Tak Juga Tewas: Inilah 3 Keanehan
    G30S 1965, Jokowi Bicara Permintaan Maaf ke Keluarga PKI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.