Muluskan Tambang Ilegal, Kades Salim Kancil Beri Iming-iming  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan  petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Massa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim (52) alias Kancil yang terjadi pada Sabtu 26 September 2015 di depan Gedung DPRD Kota Malang, 28 September 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Lumajang - Kepala Desa Selok Awar-Awar, Hariyono, pernah mengiming-imingi warganya dengan uang untuk memuluskan aktivitas tambang ilegal di desanya itu. Termasuk kepada Salim Kancil, yang akhirnya meregang nyawa karena menolak tambang ilegal tersebut.

    Tijah, istri Salim, mengatakan Hariyono pernah menjanjikan sejumlah uang kepada suaminya ketika aktivitas penambangan pasir ilegal itu mulai berjalan pada 2014. Uang itu, menurut Hariyono, sebagai pengganti hasil sawah Salim yang dijadikan tempat truk pengangkut pasir. "Hanya dikasih Rp 1 juta saat itu," katanya ketika ditemui Tempo di kediamannya, Rabu, 30 September 2015.

    Selain diberi uang pengganti, Hariyono juga sempat menjanjikan uang Rp 2.000 untuk setiap dua kali truk yang datang mengambil pasir. Namun, kenyataannya, Salim tak pernah menerima uang itu. "Ternyata hanya dijanjikan," ujarnya.

    Pria 52 tahun itu sempat menagih janji Kepala Desa Hariyono. Oleh Hariyono, Salim diperintahkan meminta uang kepada anak buahnya, Desir. Namun kemudian oleh Desir disuruh minta ke kepala desa. Karena diperlakukan seperti itu, Salim kemudian tidak lagi bersedia meminta uang. "Akhirnya saya dan suami kerja apa adanya. Suami cari ikan dan saya yang jualkan. Saya jual komak (semacam kacang-kacangan)," tuturnya.

    Nurani bapak dua anak itu tergerak ketika dia melihat kerusakan sawah yang diakibatkan penambangan pasir semakin parah. Salim tergerak karena sawah itu merupakan hasil keringatnya sendiri. "Suami saya petani. Dulu kerja keras menggarap sawah yang dulunya rawa-rawa, yang kemudian diubah menjadi tanah sawah," ucapnya.

    Salim pun akhirnya memutuskan bergabung untuk menolak tambang. "Saya enggak apa-apa meskipun miskin asal tidak makan dari duit pasir," kata Tijah menirukan ucapan suaminya. "Aku berjuang ini."   

    Kendati aktif menolak tambang, sekalipun Salim tidak pernah ikut pergi ke Jakarta untuk mengadukan nasibnya. "Tidak punya uang untuk ke Jakarta," kata Hamid, rekan Salim sesama warga penolak tambang.

    Di mata Tijah, suaminya itu adalah sosok pekerja keras. Tak hanya menggarap sawah, Salim juga menyempatkan mencari bekicot kala malam untuk makan anak-istrinya.

    DAVID PRIYASIDHARTA

     Baca juga:
    Kisah Salim Kancil Disetrum, Tak Juga Tewas: Inilah 3  Keanehan  
    Sophia Ikut Ariel: Kalau Noah ke Taiwan, Tante Ikut Dong?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.