Dilanda Kabut Asap, Warga Riau Mulai Mengungsi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Akibat kabut asap jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. ANTARA/Rony Muharrman

    Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Akibat kabut asap jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan kian pekat menyelimuti Provinsi Riau. Indeks standar pencemaran udara di Pekanbaru sudah pada level berbahaya. Warga Pekanbaru akhirnya ramai-ramai memilih mengungsi ke provinsi tetangga, Sumatera Barat.

    "Dua anak dan istri saya sudah diungsikan ke padang," kata Indra Yose, seorang warga Pandau, Kampar, Rabu, 30 September 2015.

    Indra mengaku sangat khawatir dengan kesehatan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar karena kabut asap yang mengepung daerah itu tidak kunjung usai. Terlebih kedua anaknya terpaksa tidak masuk sekolah menyusul kebijakan pemerintah Pekanbaru yang meliburkan aktivitas belajar untuk semua tingkatan sekolah. "Selagi masih libur sekolah, sebaiknya anak-anak saya evakuasi ke Padang," ujarnya.

    Kushandayani, juga warga Pekanbaru, mengungsikan tiga anaknya ke Padang. Yani, sapaannya, lebih khawatir terhadap kesehatan anak keduanya bernama Tasya, 14 tahun, yang memiliki riwayat penyakit gangguan pernapasan. "Sejak kabut asap ini, asma anak saya sering kambuh," tuturnya.

    Pemerintah Kota Pekanbaru tengah melakukan evakuasi warganya ke posko kesehatan. Wali Kota Pekanbaru Firdaus telah membuka kantornya untuk menampung warga yang terpapar asap. Tiga ruang kantor Wali Kota dijadikan tempat evakuasi yang dapat menampung 400 orang, yaitu ruang VIP, ruang makan, dan aula.

    "Petugas kesehatan keliling kami tengah menjemput warga yang memiliki anak bayi dan ibu hamil untuk dievakuasi ke sini," ucap Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Pekanbaru Zaini Rizaldy.

    Pantauan Tempo, sudah ada dua keluarga yang menempati ruang evakuasi VIP lantai III kantor Wali Kota Pekanbaru. Kondisinya cukup kondusif, dilengkapi penyejuk udara, karpet, dan keranjang bayi. "Kami sediakan juga makanan bayi dan ibunya," kata Zaini.

    Afriani, 24 tahun, salah satu pengungsi, mengaku dijemput petugas kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari pihak kelurahan di Rumbai. Afriani memiliki anak bayi bernama Gibran, 4 bulan, yang baru saja mendapat perawatan di puskesmas terdekat karena batuk dan demam tinggi. "Kemarin sempat demam dan batuk," ujarnya.

    Pengungsi lain, Anam Dewi, 26 tahun, yang baru saja melahirkan anaknya, khawatir buah hatinya yang masih berumur 30 hari jatuh sakit akibat asap. "Pihak puskesmas menjemput saya agar dievakuasi ke sini," tuturnya.

    Zaini mengatakan evakuasi warga oleh pemerintah Pekanbaru hanya untuk keluarga kurang mampu yang memiliki bayi dan ibu hamil. Sebab, kebanyakan rumah warga tersebut mudah dimasuki asap di tengah bencana asap pekat saat ini. "Rumah tidak bisa lagi dijadikan tempat berlindung, kebanyakan rumah warga kurang mampu itu terbuat dari papan," ucapnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.