Kondisi Makin Parah, Darurat Asap Diperpanjang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Titik api terlihat dalam layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Kabut asap akibat kebakaran hutan telah menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga Riau dan sekitarnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Titik api terlihat dalam layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Kabut asap akibat kebakaran hutan telah menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga Riau dan sekitarnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Dharmasraya - Penjabat Bupati Kabupaten Dharmasraya, Syafrizal, memperpanjang status darurat kabut asap hingga dua pekan ke depan. Sebab, kabut asap sisa kebakaran hutan yang menyelimuti daerah itu semakin pekat. "Beberapa hari ini asap mulai pekat lagi. Kualitas udara berbahaya. Makanya kami tetapkan untuk memperpanjang darurat kabut asap hingga 14 hari lagi," ujarnya, Rabu, 30 September 2015.

    Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya sudah menetapkan darurat kabut asap selama 14 hari, dari 15 September 2015. Saat darurat asap ini, kata Syafrizal, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya kembali meliburkan sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Aturan itu berlaku hingga 4 Oktober 2015. "Jika asap mulai berkurang, Senin depan, pelajar kembali bersekolah," ujarnya.

    Kepala Badan Lingkungan Hidup Dharmasraya Rahmadian mengatakan kualitas udara sudah mencapai kategori berbahaya. Tingkat konsentrasi aerosol atau partikel debu (PM10) 555,56 mikrogram per meter kubik. Suhu 32 derajat dan kelembapan 61,2 persen. "Kualitas udara semakin memburuk. Beberapa hari, PM10 berkisar 400 hingga 600 mikrogram per meter kubik," ujarnya.

    Menurutnya, beberapa hari yang lalu kualitas udara sudah mulai membaik. Namun, sejak Kamis hingga Jumat kemarin, kembali memburuk dengan kategori sangat tidak sehat. Kemudian, Sabtu hingga hari ini, sudah mencapai kategori berbahaya.

    ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.