Pakai Alat Bantu Napas, Begini Kisah Bocah Korban Kabut Asap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Akibat kabut asap jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. ANTARA/Rony Muharrman

    Pengendara sepeda motor melintasi jalan yang dipenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan, di Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Akibat kabut asap jarak pandang di Pekanbaru tidak lebih dari 100 meter pada pagi hari. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Bocah berusia 13 bulan, Gibran Doktora Deysra, terbaring lemah di ruang perawatan anak Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru. Mulut dan hidungnya dipasangi alat bantu pernapasan, sedangkan di tangannya terpasang infus. Gibran didiagnosis menderita radang paru akibat terpapar asap sisa kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti kota itu dalam dua bulan terakhir.

    "Kondisi lingkungan yang buruk akibat asap boleh jadi pemicu penyakitnya," kata ayah sang bocah, Yusra Afdal Kahar, saat ditemui Tempo, di Rumah Sakit Santa Maria, Pekanbaru, Selasa, 29 September 2015.

    Yusra sadar betul kabut asap pekat yang menyelimuti Riau dalam dua bulan terakhir ini berdampak buruk terhadap kesehatan. Ia khawatir kesehatan tiga buah hatinya terganggu akibat paparan asap.

    Namun apa yang ditakutkan akhirnya terjadi: anak bungsunya mengalami demam tinggi dan sesak napas. Meski segala upaya telah dilakukan, dari menutup rapat pintu rumah, memasang kipas angin, bahkan sampai menyalakan AC sekalipun, asap tetap saja masuk melalui celah rumah. "Tidak semua fentilasi bisa kita tutup," ucapnya.

    Ahad, 20 September 2015, Gibran mengalami demam tinggi disertai batuk. Yusra sempat memberikan obat penurun panas untuk anaknya. Namun, setelah tiga hari berselang, suhu panas badannya tidak kunjung turun, kondisinya kian memburuk diiringi batuk dan sesak napas. "Lalu saya bawa ke rumah sakit," kata warga Jalan Garuda Sakti KM 3 Pekanbaru ini.

    Setiba di Rumah Sakit kata Yusra, dokter meminta agar Gibran dirawat inap. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan Gibran mengalami peradangan pada paru-paru sebelah kirinya. Yusra menduga lingkungan yang buruk membuat anaknya jatuh sakit akibat terpapar asap. "Kami di rumah tidak ada yang merokok, kami juga tidak ada riwayat penyakit sesak napas, tapi lingkungan di sekitar rumah sangat buruk akibat asap memicu kesehatannya tergganggu," Yusra menjelaskan.

    Dokter spesialis anak Santa Maria Susprawitasari yang merawat Gibran menuturkan, pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi demam tinggi disertai batuk dan sesak napas. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan foto rongga dada (rontgen), diketahui terjadi infeksi saluran pernapasan menengah atau radang paru-paru. "Infeksinya sudah sampai ke cabang bronchus," katanya.

    Susprawitasari mengatakan kondisi pasien sudah mulai membaik setelah dilakukan penangangan sistem penguapan untuk membantu pernapasannya. "Pasien berangsur pulih dan sudah mau makan," ujarnya.

    Susprawitasari mengaku kabut asap menyelimuti Pekanbaru memperburuk kesehatan anak mengingat daya tahan tubuh anak dibawah umur belum sempurna. "Sistem imun anak belum sempurna sehingga mudah sakit," tuturnya.

    RIYAN NOFITRA

    Baca juga:
    Kisah Salim Kancil Disetrum, Dibunuh: Ini Sederet Keanehan di Balik Tragedi
    Ini Duit yang Dipakai Setya Novanto cs & Ahok: Siapa Boros?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.