Tak Lagi Jadi Wali Kota Surabaya, Risma Bisa Lepas HT

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menyapa pengunjung cilik usai mengamati sejumlah produk yang dipamerkan di area Paviliun Surabaya pada Pameran Popcon Asia 2015 di Senayan, Jakarta, 8 Agustus 2015. Selain menjadi pembicara pada sesi Talkshow, Risma memamerkan beberapa karya kreatif pemuda di Paviliun Surabaya, serta mendeklarasikan Surabaya sebagai Kota Kreatif pada Popcon Asia 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menyapa pengunjung cilik usai mengamati sejumlah produk yang dipamerkan di area Paviliun Surabaya pada Pameran Popcon Asia 2015 di Senayan, Jakarta, 8 Agustus 2015. Selain menjadi pembicara pada sesi Talkshow, Risma memamerkan beberapa karya kreatif pemuda di Paviliun Surabaya, serta mendeklarasikan Surabaya sebagai Kota Kreatif pada Popcon Asia 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Surabaya -  Tri Rismaharini mengaku tak ada perubahan mendasar dari gaya hidupnya setelah melepaskan jabatan Wali Kota Surabaya, Senin 28 September 2015. Risma harus melepas kursi wali kota karena masa jabatannya sudah habis. Namun, dia akan kembali berlaga dalam pemilihan kepala daerah Surabaya, Desember 2015 mendatang.

    "Sebenarnya tidak ada perbedaan tapi beban tugas memang sedikit berkurang," katanya, ketika ditemui di Taman Ekspresi, Jalan Gentengkali, Selasa, 29 September 2015. "Biasanya saya selalu memikirkan semua yang terjadi di Kota Surabaya. jadi beban pikiran, bukan beban pekerjaan lho ya,” ujar Risma.

    Menurut Risma, ketika masih menjabat sebagai wali kota, dia tak bisa lepas dari pesawat handy talkie, radio komunikasi yang selalu ada di tangannya. Dengan HT itu, Risma mengontrol kinerja aparatur pemerintahan di Surabaya. Setelah tak lagi jadi wali kota, dia tidak lagi memegang HT itu. “Jadi, saya tidur sekarang sudah tidak dengan HT itu,” ujar Risma sambil tertawa.

    Selain itu, jika dulu, Risma mengaku setelah bangun tidur biasanya buru-buru langsung bergerak ke agenda kerjanya sebagai wali kota, kini dia tak lagi harus terburu-buru. “Tadi tenang saja, tidak buru-buru setelah bangun,” katanya.

    Perbedaan lain yang dia rasakan, adalah ketika ada hujan dan angin kencang seperti yang kemarin. Semasa menjabat wali kota, biasanya Risma langsung mengajak keluarganya berdoa supaya tidak ada apa-apa yang terjadi di Kota Surabaya. Setelah berdoa, Risma biasanya langsung keluar rumah untuk mengecek beberapa kejadian di seluruh Kota Surabaya.

    "Tadi malam ketika suami saya bilang bahwa anginnya sangat kencang, saya hanya berdoa supaya tidak terjadi apa-apa di Surabaya,” kata dia. Risma tak perlu lagi berpatroli melihat apa yang rusak akibat cuaca buruk itu.

    MOHAMMAD SYARRAFAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.