Agus Widjojo Luncurkan Buku Transformasi TNI  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat, Letjen (Purn) Agus Widjojo, meluncurkan buku berjudul Transformasi TNI: Dari Perjuangan Kemerdekaan Menuju Tentara Profesional dalam Demokrasi, di Gedung Pakarti lantai 3, Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat, Senin 28 September 2015.

    "Buku ini adalah perjalanan hidup Pak Agus dengan pembacaannya tentang militer selama ini. Mulai dari isu Papua hingga isu-isu lain terkait reformasi TNI," kata moderator bedah buku ini, peneliti senior LIPI Jaleswari Pramodhawardani. Buku ini, kata dia, juga banyak membahas tentang pembinaan teritorial. "Isu teritorial ini sudah melekat pada Pak Agus, karena jabatannya dulu sebagai Kepala Staf Teritorial TNI. Sesuatu yang sering dia wacanakan adalah restrukturisasi komando teritorial."

    Letnan Jenderal (Purnawirawan) Kiki Syahnakri, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat 2000-2002, yang menjadi pembahas buku ini, mengaku setuju dengan pemikiran Agus Widjojo dalam buku ini, yang menyarankan pemerintah daerah jadi penanggungjawab pembinaan teritorial. "Jadi TNI bisa membantu mengarahkan pembangunan daerah bagi kepentingan pertahanan," kata Kiki.

    Pembicara lainnya, pengamat militer yang juga mantan Sekretaris Kabinet, Andi Widjajanto, mengaku tergelitik dengan kata 'transformasi' dalam judul buku ini. "Pak Agus sengaja memilih menggunakan kata 'transformasi' yang secara akademik, bagi saya menawarkan sesuatu yang baru," kata Andi. Biasanya, kata dia, TNI menggunakan terminologi  'modernisasi' atau 'reformasi'. Kata Andi, "Buku ini merekam bagaimana reformasi dilakukan, dan menawarkan transformasi."

    Andi juga memuji cara Agus Widjojo menutup buku ini dengan mengutip tulisan panglima TNI pertama, Jenderal Besar Sudirman. "Di situlah inti dari transformasi. Negara harus mempertahankan budaya strategis negara kita. Suatu kekuatan militer tidak bisa menanggalkan strategic culture-nya," kata Andi. Kultur strategis suatu militer, kata dia, dibentuk dari pengalaman negara itu berperang dan berpolitik. "Dengan dimuatnya tulisan pak Dirman ini, (mengindikasikan) bahwa kira-kira secara akademik, transformasi yang dimaksud (Agus Widjojo--) adalah bersifat inovasi militer. Strategic culture dan strategic environment harus dipertemukan," kata Andi.

    Agus Widjojo adalah lulusan Akademi Militer tahun 1970. Posisi terakhir pria kelahiran Solo, 68 tahun lalu, ini adalah Kepala Staf Teritorial TNI. Dia juga adalah mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan (MPR) dari Fraksi TNI/Polri.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.