Super Blood Moon, MUI: Itu Bukan Kiamat, Hanya Gerhana  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi gerhana bulan merah darah/ Blood Moon. Phil Walter/Getty Images

    Ilustrasi gerhana bulan merah darah/ Blood Moon. Phil Walter/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Amidan, mengatakan adanya blood moon atau bulan darah yang akan terjadi malam nanti, 28 September 2015, merupakan fenomena alam biasa. Menurut dia, bulan darah bukanlah suatu pertanda hari akhir yang harus ditakuti masyarakat.

    "Dalam Islam, tanda-tanda kiamat itu sudah jelas, bukan dari adanya fenomena bulan darah. Itu hanya gerhana saja," ucap Amidan saat dihubungi, Senin, 28 September 2015. "Tidak perlu dikhawatirkan, karena kiamat itu urusan Tuhan."

    Amidan meminta umat Islam tidak terlalu terbawa keyakinan yang menyebut kemunculan super blood moon merupakan suatu penanda akan adanya bencana besar. "Yang penting, berdoa saja bahwa fenomena itu merupakan kuasa Tuhan."

    Gerhana bulan nanti malam adalah gerhana bulan darah yang keempat dalam satu rangkaian atau disebut blood moon tetrad. Disebut tetrad karena empat gerhana bulan total yang posisinya menyebabkan gelombang merah cahaya matahari masuk ke atmosfer bumi sehingga mengubah bulan menjadi merah. Blood moon sudah terjadi tiga kali terjadi. Kemunculan yang terakhir terjadi pada 15 April 2014. Senin, 28 September 2015, bulan darah diprediksi kembali terjadi. Pada masa yang akan datang, fenomena ini diperkirakan kembali terjadi pada 2032-2033. (Lihat video Bulan Merah Pertanda Kiamat)

    Sejumlah penganut aliran kepercayaan percaya bahwa kemunculan fenomena blood moon tetrad merupakan tanda-tanda terjadinya hari akhir atau hari kiamat. Kemunculan fenomena bulan darah yang terjadi pada hari-hari perayaan agama Yahudi semakin memperkuat anggapan tersebut.

    Kemunculan bulan darah berturut-turut terjadi tepat pada perayaan Paskah pada April 2014, Sukkot pada Oktober 2014, dan Paskah pada April tahun berikutnya. Terakhir, kemunculan bulan darah akan bertepatan dengan perayaan Yahudi yang dikenal dengan Hari Raya Pondok Daun atau Tabernakel.

    Pada 1493, blood moon tetrad juga terjadi bertepatan dengan perayaan keagamaan Yahudi. Saat itu, umat Yahudi diusir dari Spanyol semasa era penaklukan Spanyol. Blood moon tetrad berikutnya terjadi pada 1949 setelah negara Israel terbentuk. Terakhir, fenomena itu terjadi saat Israel memenangi perang enam hari melawan negara-negara Arab.

    REZA ADITYA

    Simak juga:
    Kabut Asap, Jusuf Kalla: Singapura, Silakan Kalau Mau Bantu
    Rachmawati Beri Kim Jong Un Penghargaan Soekarno,Alasannya...

    Video Terkait:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.