Sumatera Masih Berpotensi Kebakaran, Titik Panas Melonjak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas membersihkan area landasan pacu yang tidak beroperasi akibat diselimuti kabut asap di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Kabut asap mengakibatkan 12 penerbangan menuju dan dari Pekanbaru dibatalkan. ANTARA/Rony Muharrman

    Petugas membersihkan area landasan pacu yang tidak beroperasi akibat diselimuti kabut asap di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 14 September 2015. Kabut asap mengakibatkan 12 penerbangan menuju dan dari Pekanbaru dibatalkan. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Titik panas yang berpotensi memicu terjadinya  kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera kembali meluas. Titik panas melonjak hingga 674 titik, jauh meningkat dari hari sebelumnya sebanyak 45 titik.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Pekanbaru menyebutkan satelit Tera dan Aqua memantau Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak di Sumatera yang mencapai 607 titik. "Titik panas terpantau pukul 05.00," kata Kepala BMKG Pekanbaru Sugarin, Ahad, 27 September 2015.

    Menurut Sugarin, titik panas juga menyebar di lima daerah lain, yakni Jambi 37 titik, Lampung 14 titik, Bangka Belitung 11 titik, Kepulauan Riau 1 titik, dan Riau terpantau 4 titik panas. "Tingkat kepercayaan di atas 70 persen, yakni empat titik panas."

    Sugarin menjelaskan, cuaca wilayah Riau secara umum cerah berawan dan diselimuti asap. Peluang hujan dengan intensitas ringan disertai petir dan angin kencang terjadi di wilayah Riau bagian utara, tengah, dan barat. "Temperatur maksimum 31,0-33,5 derajat Celsius," ujarnya.

    Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan turut mencemari udara empat daerah di Riau. Jarak pandang jauh di bawah ambang batas. Pekanbaru, misalnya, jarak pandang menurun hingga 100 meter; Rengat 100 meter; Pelalawan 200 meter; dan Dumai 800 meter.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.