Jamaah Asal Semarang Dikabarkan Menjadi Korban Tragedi Mina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas berdiri disamping jemaah haji yang tewas akibat terinjak-injak saat menuju tempat pelemparan jumrah di Mina, 24 September 2015. Total korban yang tewas akibat tragedi ini mencapat 719 orang dan ratusan lainnya luka-luka. REUTERS/Stringer

    Sejumlah petugas berdiri disamping jemaah haji yang tewas akibat terinjak-injak saat menuju tempat pelemparan jumrah di Mina, 24 September 2015. Total korban yang tewas akibat tragedi ini mencapat 719 orang dan ratusan lainnya luka-luka. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Semarang - Seorang anggota jemaah haji asal Kota Semarang dikabarkan menjadi korban tewas tragedi Mina. Korban bernama Sugeng Triyanto, 57 tahun, tergabung di kelompok terbang 62 Embarkasi Solo, tepatnya Regu III.

    "Kabar itu kami terima dari anak Sugeng, Aditya, yang ikut berhaji bersama," kata Kuncoro, adik korban saat ditemui di rumah duka, di Perumahan Pokok Pindasi Blok I Nomor 8, RT 3 RW VII, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

    Menurut Kuncoro, kakaknya berangkat haji bersama istri dan anaknya yaitu Sri Prabandari 58 tahun, dan Aditya, 27 tahun. Selain itu juga dua kakak iparnya yaitu Sri Agustin 56 tahun dan Maryuni 71 tahun menunaikan haji di kelompok terbang yang sama Regu III dan VII.

    "Adit melihat bapaknya terinjak-injak. Dia juga menutupi jenazah pakai kain ihram. Kami bisa memastikan meninggal karena dari Adit sendiri bercerita," kata Kuncoro.

    Kuncoro menjelaskan dalam rombongan haji yang masih berhubungan keluarga itu terdapat dua orang yang mengalami hambatan jalan sehingga menggunakan kursi roda, yakni Aditya yang lumpuh sejak lahir dan didorong ayah ibunya, serta Maryuni yang juga menggunakan kursi roda didorong Agustin.

    Keluarga Sugeng Triyanto melakukan perjalanan di Mina untuk melempar Jumroh, tiba-tiba barisan depan berhenti sedangkan dari bagian belakang terus mendorong. Hal itu menimbulkan rombongan keluarga itu terpisah dan terjatuh. Berdasarkan cerita Adit di tanah suci, istri Sugeng atau ibunya sudah tidak tampak karena terdorong, sedangkan ayahnya tergeletak terinjak-injak.

    "Yang saya dengar dari Adit, dia menutup jenazah dengan kain Ihram, kemudian ada yang menolong Adit dari Askar dibawa ke rumah sakit. Jenazah ditinggal di tempat," kata Kuncoro.

    Saat ini keluarga almarhum Sugeng, terdiri Adit, Agustin, dan Maryuni sudah berkumpul kembali. Mereka terluka sedangkan kursi roda rusak. Sementara itu Sri Prabandari hingga kini belum diketahui keberadaannya. Kuncoro berharap pemerintah segera memberikan informasi kondisi ibu Aditya itu.

    "Kami ingin tahu kondisi bu Sugeng (Sri Prabandari), kalau pak Sugeng, kami sudah ikhlas," katanya.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.