HMI Kecam Pemecatan Mahasiswa Pengusul Revisi Al-Quran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tuah Aulia Fuadi. facebook.com

    Tuah Aulia Fuadi. facebook.com

    TEMPO.CO, Medan - Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menyesalkan pemecatan mahasiswa pengusul revisi Al-Quran oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara. Tuah Aulia Fuadi, mahasiswa semester V jurusan Ahwal Al Syakhshiyah Fakultas Syari'ah, UIN Sumatera Utara, dipecat karena tulisan dia pada laman Facebook dianggap menghina Islam dan Al-Quran.

    Menurut Ketua Badko HMI Sumatera Utara Anggia Ramadhan, pemecatan terhadap Tuah itu terlalu berlebihan. "Kalaupun ada yang salah dari Tuah, seharusnya pihak kampus UIN tak main pecat. Kampus itu penuh dengan dinamika diskusi dan berbagi ilmu serta pemahaman," katanya kepada Tempo, Sabtu, 26 September 2015.

    Tuah saat ini tercatat sebagai aktivis HMI Komisariat Fakultas Syari'ah UIN Sumatera Utara. Menurut Anggia, Tuah sering hadir dalam kegiatan diskusi yang diadakan HMI. Tuah baru saja mendapatkan pendidikan nilai dasar perjuangan HMI dan latihan kepemimpinan satu (LK I). "Mungkin, setelah selesai mendapat pendidikan nilai dasar perjuangan HMI dan LK I, Tuah ingin menunjukkan eksistensi dan pemahamannya mengenai Islam," ujar Anggia.

    Pendapat dan pemikiran itu lantas Tuah tuangkan dalam tulisannya pada akun Facebook miliknya. Tulisan itu lantas mendapat respons dan kecaman banyak pihak karena dianggap menghina Islam. Berikut ini sejumlah kutipan tulisan Tuah yang dianggap bermasalah: "Dahulu dizaman rasul, al QURAN itu hadir dalam wajah jelek (tampil di kulit kambeng) udah lah kepalanya botak (tak berbaris) beraroma busuk pula lg itu (yg pastinya bau bangkailah). Dahulu Alquran itu memang parah, kehadirannya primitif, beda dengan sekarang. Alquran yg sekarang sudah maju secara profresif. Ia tampil dlm wajah tampan. (di buku)."

    Tuah juga mempermasalahkan penafsir tunggal Rasul. Dia menulis: "Penafsiran itu hanya rasul dan itu pun satu. sekarang ia sudah mati jd penafsir tunggal itu sdh ga ada lg. Yg sebaiknya Alquaraan itu direvisi saja. Minimal kembalikan saja urusan itu ke Negara, Biar negara saja yg merelevansikannya sesuai dengan kebutuhan zaman dan peradaban umat yg lebih progresif, modernis, teknologis dan teknogratis."

    Tidak hanya menuai kecaman di media sosial, Tuah juga dipecat sebagai mahasiswa UIN Sumatera Utara gara-gara tulisan itu. "Tuah kami pulangkan kepada orang tuanya untuk dibina," tutur Rektor UIN Sumatera Utara Nur Ahmad Fadhil Lubis.

    SAHAT SIMATUPANG

    Baca juga:
    Dilaporkan Tewas 30 Tahun Lalu, Wanita Ini Ternyata Hidup
    TRAGEDI MINA: 4 Anaknya Tewas, Begini Reaksi Lelaki Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.