TRAGEDI MINA: Terjebak Gara-gara Menggugu Pemimpin Rombongan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan dari ribuan umat muslim berjalan menuju tempat untuk melemparkan batu sebagai simbol mengusir setan dalam ritual Jumrah di Mina, Arab Saudi, 24 September 2015. AP/Mosa'ab Elshamy

    Ratusan dari ribuan umat muslim berjalan menuju tempat untuk melemparkan batu sebagai simbol mengusir setan dalam ritual Jumrah di Mina, Arab Saudi, 24 September 2015. AP/Mosa'ab Elshamy

    TEMPO.CO, MINA - Muhammad Juhdi Ibrahim menuruti begitu saja omongan pimpinan rombongan untuk melontar jumrah di Jembatan Jamarat pada pagi hari, Kamis lalu itu. Ia pun tak bertanya kepada kepala kelompok yang disebut Ustad Ibrahim itu perihal alasan mereka melewati Jalan 204 menuju Jamarat-tempat tiga tugu yang merupakan simbol setan. "Beliau sudah naik haji 13 kali. Tentu saja beliau hafal," kata Juhdi, yang ditemui Antara di kantor Misi Haji Indonesia, Mekah, Jumat, 25 September 2015.

    Jalan 204 bukan jalur rombongan Indonesia. Kementerian Agama melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) merekomendasikan dua jalur "resmi", yakni Jalan King Fahd dan Jalan Moasim. PPIH pun telah mengedarkan imbauan agar mereka tak melontar jumrah pada pukul 08.00-11.00 pada 10 Zulhijah, ketika Jamarat sedang padat-padatnya.

    Sekitar pukul 09.00, Juhdi bersama rombongan tiba di Jalan 204. "Tiba-tiba orang-orang berkulit hitam berjalan dan mendesak dari arus yang berlawanan," kata dia. Saat itulah rombongan terpencar. Juhdi dan istrinya bersusah payah menepi. Selama dua jam, mereka terimpit oleh jemaah yang berdesakan. "Banyak mayat di dekat kami," ujar pria 57 tahun itu.

    Saat hampir pingsan karena penyakit jantungnya kambuh, pertolongan datang. Seorang tenaga kerja Indonesia menyelamatkannya dan membawa mereka ke permukiman penduduk. Akhirnya, ia dibawa ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama.

    Gara-gara pimpinan rombongan pula Ismawati binti Muhammad Kasim dari Sulawesi Barat terjebak di Jalan 204. Bersama kakak dan neneknya, serta puluhan anggota rombongan, ia berangkat pagi-pagi ke Jamarat. Di tengah jalan, mereka beristirahat sejenak karena sang nenek kelelahan. Akibatnya, mereka ditinggalkan rombongan.

    Saat itulah, dari arah berlawanan, ratusan orang mendesak mereka. "Saya berhasil selamat karena ditolong jemaah pria yang menyuruh naik pagar," kata Ismawati, 45 tahun. Adapun kakak dan neneknya tak mampu memanjat pagar. Dengan mata kepalanya sendiri Ismawati menyaksikan kakak dan neneknya terinjak-injak. Hingga kini, Ismawati belum mengetahui nasib keduanya. 

    ANTARA

    Baca juga: Gawat, Inilah yang Bisa Bikin Sepak Bola Mati Pelan-pelan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.