Kelompok Superkaya Penyebab Ketimpangan Ekonomi Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kemiskinan Jakarta. Getty Images

    Ilustrasi kemiskinan Jakarta. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Perkumpulan Prakarsa, Maftuhan, mengatakan penyebab ketimpangan sosial dan ekonomi di Indonesia adalah pendapatan orang-orang superkaya yang berpenghasilan Rp 5-10 miliar per tahun. Jumlah kelompok ini di Indonesia terus meningkat.

    Masalahnya, Maftuhan melanjutkan, meski pendapatannya sangat tinggi, kontribusi total pajak dari kelompok superkaya hanya sekitar 2 persen terhadap penerimaan negara melalui pajak penghasilan. “Tingkat kepatuhan orang kaya untuk membayar pajak rendah,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Tempo, Jumat, 25 September 2015.

    Perilaku itu berkebalikan dengan kelompok pekerja atau kelas menengah. Sumbangan pajak oleh kelas menengah mencapai 15 persen terhadap penerimaan negara. Ia memberikan gambaran dari potensi 60 juta pembayar pajak, saat ini baru 27,57 persen juta orang yang terdaftar alias memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP).

    Dari jumlah itu, hanya 11 juta orang yang memenuhi kewajibannya. Dengan demikian, sumbangan pajak penghasilan dari total penerimaan negara hanya 12 persen dari potensi pajak 16-18 persen. “Artinya, negara ini ditopang pajak kelompok pekerja,” kata Maftuhan.  

    Tingginya angka ketimpangan itu menjadi topik pembahasan dalam diskusi di luar agenda utama Sidang Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) bertema “Goal 10 SDGs Reducing Inequality: Desirable but is it Feasible?”. Diskusi itu diselenggarakan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan lembaga masyarakat sipil internasional di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) pada Dewan Perwakilan Bangsa-Bangsa di New York.

    Maftuhan mengusulkan supaya ada redistribusi pajak yang menguntungkan kelompok miskin dan kelas menengah, yaitu dengan mengutamakan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, irigasi, dan listrik. “Infrastruktur dasar juga harus menjadi prioritas agar redistribusi pajak dapat dinikmati semua kalangan,” tuturnya.

    Maftuhan mengkritik pemerintah Joko Widodo yang cenderung mengejar pembangunan infrastruktur besar, seperti jalan tol dan bandara, yang cenderung dinikmati kalangan industri besar.

    AGUNG SEDAYU

    Baca juga:
    Gawat, Inilah yang Bisa Bikin Sepak Bola Mati Pelan-pelan
    Ahok Kaget: Anggaran Rotterdam Rp 3,5 T, Jakarta Rp 12,1 T


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.