Sapi Kurban Ini Dibedaki, Disuruh Ngaca, Baru Disembelih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor sapi kurban didandani oleh pemiliknya untuk menarik minat pembeli saat dijual untuk dijadikan hewan kurban pada hari raya Idul Adha nanti di Islamabad, Pakistan, (14/10). (AP Photo/B.K. Bangash)

    Seekor sapi kurban didandani oleh pemiliknya untuk menarik minat pembeli saat dijual untuk dijadikan hewan kurban pada hari raya Idul Adha nanti di Islamabad, Pakistan, (14/10). (AP Photo/B.K. Bangash)

    TEMPO.CO, Padang - Sekitar seratus jemaah Syattari baru merayakan Idul Adha 1436 H hari ini, 25 September 2015. Mereka melaksanakan salat Id dan penyembelihan hewan kurban di Masjid Tarantang yang terletak di Kelurahan Andalas Barat, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat.

    Saat proses penyembelihan hewan kurban, ada tradisi unik. Mereka menyiapkan kain putih berukuran 2 x 0,5 meter, bedak, kaca, daun sirih serta beras yang disiapkan di atas nampan.

    Imam Syattari, Tuanku Zulkarnain, mengatakan sapi-sapi kurban itu ditutupi dengan kain putih. Nampan yang berisi beras dan daun sirih diletakkan di dekat sapi tersebut. Kemudian, kepala sapi dikasih bedak beras dan rambutnya disisir.

    "Lalu, kami letakkan kaca di depan sapi itu. Jika sapi itu sudah menghadap ke kaca atau berkaca, baru kami sembelih," ujar Zulkarnain, saat ditemui di Masjid Tarantang, Jumat, 25 September 2015.

    Tradisi ini, menurut Zulkarnain, sudah dilakukan secara turun-menurun, saat pertama kali masjid ini berdiri pada 1901.

    Menurut Zulkarnain, tarekat Syattari berasal dari Syattariyah yang berpusat di Ulakan, Padang Pariaman. Guru-guru tarekat ini merupakan murid dari Syekh Burhanuddin yang diyakini membawa tarekat Syattariyah. Salah satunya Tuanku Sidi Jamali.

    "Tuanku Sidi Jamadi inilah yang membawanya ke Masjid Tarantang ini," ujarnya.

    Ada sekitar seratus jemaah Syattari yang melaksanakan salat Id di Masjid Talantang. Mereka menyembelih enam ekor sapi kurban yang berasal dari 42 jemaah tarekat tersebut.

    Penetapan 10 Zulhijah tarekat, menurut Zulkarnain, sama dengan penetapan tarekat Syattariyah, yaitu berdasarkan hisab takwin khamsiah atau penghitungan jumlah awal huruf tahun dan awal huruf bulan.

    ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.